• home ym com


Awalya Tidak Percaya

sedekah2

 

Ah, moso sih? Nggak masuk akal lah kalau harta berlimpah didapat dari sedekah yang jor-joranLha uang kan bisa entek kalau semuanya disedekahke.” Begitu mulanya pikir Ustadz Abdul Munif (31), menyimak taushiyah Ustadz Yusuf Mansur di Masjid Baiturrahman, Semarang, suatu hari di tahun 2003.

Walau sudah mengabdikan diri di dunia dakwah, dalam hal cash flow ustadz yang biasa disapa Ustadz Hanif ini mengaku sangat rasional.  Maklumlah, beliau juga seorang pedagang yang memiliki toko buku di Jakarta. Makanya, nasihat Ustadz Yusuf dia anggap nyeleneh.

Tapi justru karena kenyelenehan itulah, adik kandung penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Siroudzi, ini penasaran. Ustadz Hanif yang memimpin Pondok Pesantren Basmallah, Patemon, Semarang, terus mengikuti taushiyah Ustadz Yusuf Mansur lewat media massa. Diam-diam, ia mulai tertarik pada jurus-jurus sedekah yang katanya bisa menjadi solusi bagi permasalahan manusia.  Apalagi ada testimoni dari orang-orang yang telah merasakan keajaiban sedekah.

“Matematika Langit berbeda dengan matematika bumi.  Menurut rasio manusia, harta yang terus dikeluarkan, lama kelamaan bisa habis. Namun bagi Allah SWT, harta bila dikeluarkan untuk sedekah, maka akan diganti berlipat ganda, sehingga harta kita tidak berkurang, malah akan bertambah,“ demikian Ustadz Yusuf.

“Sedekah dapat menjadi solusi segala permasalahan yang kita hadapi, karena Allah SWT akan memberi imbalan kebaikan berlipat ganda bagi sedekah yang dilakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.”

Oke, Ustadz Hanif coba membuktikannya. Waktu itu kebetulan Ponpes Basmallah mulai memiliki tempat sendiri, berupa bekas kos-kosan mesum sebanyak 14 kamar. Masih perlu  banyak dana untuk melengkapi fasilitasnya.

Kebetulan pula, suami Is Aniah Noor ini sedang mendapat keuntungan dagang Rp 10 juta.  Disedekahkanlah semua keuntungan itu ke Forum Pengajian Wisata Rohani yang diasuhnya.  “Rp 4 juta saya sedekahkan secara terang-terangan, Rp 6 juta secara sembunyi-sembunyi, dan malam harinya saya ndak bisa tidur,” ungkap ayahanda Ahsa Survaiva dan Jeishu Mohamad ini. Hatinya deg-deg plas, apakah uangnya bakal balik lagi atau tidak. Apalagi penjualan hasil bukunya sering macet. Namun dikuat-kuatkan keyakinannya atas rezki Allah SWT.

Subhanallah, hanya dalam waktu sebulan, sedekahnya sudah mulai “bunyi”.  Hasil penjualan toko bukunya di Jakarta menembus angka Rp 610 juta plus Rp 300 ribu!

“Allah rupanya membalas lebih dari 10 kali lipat, sangat berlipat ganda,” ia bersyukur penuh takjub. Alhamdulillah, dengan uang tersebut cita-citanya mendirikan pesantren dengan fasilitas lengkap akhirnya kesampaian.

Sejak saat itu, pemahamannya tentang sedekah lebih tercerahkan. Benar, sedekah adalah solusi persoalan hidup. Tentu saja disertai peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah wajib maupun sunnah. “Sedekah benar-benar ajaib, saya sampai ‘merinding’ dibuatnya,” ujar Ustadz Hanif.

Pengalaman dan jurus sedekah, kini senantiasa beliau tularkan kepada para santri dan masyarakat sekitar melalui Pengajian Wisata Rohani. Ustadz Hanif bilang, ia selalu menekankan kepada para santri serta jamaah pengajian, agar menjadikan sedekah sebagai solusi terhadap semua permasalahan yang dihadapi. “Alhamdulillah, banyak yang telah mengikuti anjuran saya dan merasakan keajaiban sedekah,” ungkapnya.

 

Yuk, salurkan sedekah Anda untuk Pembibitan Penghafal Al Quran

Sedekah sekarang

Sedekah Program Pembibitan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.