Come to HIM, Talk to HIM

Come to HIM, Talk to HIM
Datang ke Allah, dan bicaralah

By Yusuf Mansur atas izin Allah

 

Ada Allah.
Kenapa ga datang dan memohon kepada-Nya?

(+) Kenapa pake “Him” sih? Ga sopan. Kenapa ga langsung pake Allah saja? Ga usah pake kata pengganti. Masa nyamain Allah, dengan dia?
(-) He he he, baru nulis judul udah dikomen… Kebiasaan nih… Ga fokus sama konten…
(+) Kurang Sreg.
(-) Jarang baca terjemahan al Qur’an berbahasa Inggris ya?
(+) Emangnya Situ pernah…?
(-) He he he, engga. Sama ya…?
(+) ???
(-) Gini ya. Di dalam bahasa Arab dan juga Inggris, dikenal kata pengganti. Memang kata pengganti seperti menunjuk pada laki-laki. HE, HIM, HIS. Kadang juga seperti “aku” dalam bahasa Inggris, sebab memakai “I”. Contoh: “… If you are grateful I will give you more; But if you are ungrateful verily My punishment is indeed severe.” Ini sepenuh-sepenuhnya terjemahan surah Ibroohiim ayat 7. “Sesiapa yang bersyukur, Aku akan tambahkan nikmat-Ku. Dan sesiapa yang tidak bersyukur, maka azab-Ku sungguh teramat penting. Dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa kata pengganti “I” dan “My” di sana lalu jadi menyamakan dengan menyebut manusia. Itu tetap untuk menyebut Allah, dan tanpa juga merendahkan. Karena itu kadang untuk membedakannya, dipakai huruf capital.
(+) Oh ini yang pernah dimuat di Twitter @yusuf_mansur ya?
(-) Iya. Dan di bahasa Indonesia dan Arab, kan juga relatif sama. “Aku”, “Dia”, “Kepunyaan-Nya”, sama-sama menunjukkan kata ganti. Tapi kita mafhum. Maka untuk pembedaannya pun disiasati dengan memakai huruf kapital di awal, atau huruf kapital semua: AKU, DIA, Kepunyaan-NYA. Sama sekali bukan penistaan dan perendahan terhadap Allah. Pemakaian kata-kata Allah, asli Allah, maka berubah pula strukturnya dalam bahasa Inggris. Misal; His universe. Maka His universe ini tidak bisa disebut: Allah universe. Harus begini bunyinya: Allah’s universe.
(+) Tapi tetep kurang sreg…
(-) He he, ya ga apa-apa. Ini soal wawasan juga, ha ha ha. Ga apa-apa koq beda. Silahkan kalau mau makai Allah, maka sesuaikan saja kalimatnya. Di dalam bahasa Arab, dhomir “ana/saya/aku”, “nahnu/kami, “huwa/dia”, “anta/engkau”, pun lazim dipakai. Ini sudah jadi “taste” berbahasa, he he. Biasa aja. Sekali lagi, di dalam bahasa Indonesia, untuk menunjukkan kesopanan, pake kapital: Aku, Kami, Engkau. Di dalam bahasa arab, ga ada kapital kapitalan, he he. Semua sama. Bahkan dulu malah parah. Ga ada titik ga ada koma.
(+) Jadi…?
(-) Jadi… Come to HIM, Talk to HIM… he he he.
(+) Jadi ga masalah nih? Termasuk pemakaian GOD, LORD?
(-) Kalo saya mah, ga masalah. Biasa aja. Udah jadi kepahaman.
(+) Tetep ga sreeeeeggg…
(-) Kurang baca kali… Kurang ngerti juga.
(+) Tapi ya ngapain juga bicara tentang HIM, HIS, HE? Bukannya pengen ngomongin tentang Come to HIM, Talk to HIM? Datang ke Allah, dan bicaralah?
(-) Yeeeeeee… Situ yang memulai diskusi ini…?
(+) Iya. Itulah kita ya? Malah diskusi yang keluar dari konteks. Yang seharusnya ga perlu, yang seharusnya ga penting.
(-) Tapi ya penting juga. Supaya jadi pengetahuan buat yang belum paham. Kata-kata HE di dalam bahasa Inggris bisa juga untuk penyebutan yang dihormati, atau penghormatan tertinggi.
(+) Loh, dibahas lagi…?
(-) He he, iya. Gini aja… Sesiapa yang bisa bikin artikel seputar ini, seputar pemakaian kata ganti, bolehlah bikin artikelnya, dan kirim ke: YusufMansur_wh@yahoo.com. Kasih judul: He, Him, His. Buat menambah referensi.
(+) Ya udah, bahas dah nih “Come to HIM, Talk to HIM.”
(-) Besok aja dah.
(+) Loh loh loh… Ngambek…?
(-) ENgga. Semua udah diatur Allah. Santai aja. Ini juga toh ilmu adanya. Yang belom tau, nanya, ngomong. Yang sedikit taunya, ya kasih tau. Yang penting engga ribut. Jangan lupa, di setiap buka KuliahDhuhaa (dan sebenernya pas ngapain aja), baca bismillaah di awal. Walaupun saya ga menyeru, ga menulis, tapi harus sudah menjadi kebiasaan ya. Supaya jad ibadah, dan berkah.
(+) Ok dah. Makasih buat penjelasannya. Saya boleh ngasih bocoran tentang pembahasan “Come to HIM, Talk to HIM”?
(-) He he, koq jadi Situ yang mau bocorin? Heran. Emangnya Situ siapa? Dan siapa yang mau membahas?
(+) Situ sama saya sama saja. Saya Yusuf Mansur, Situ juga Yusuf Mansur.
(-) He he he, nanya sendiri, jawab sendiri…
(+) Ga juga. Ini kan pertanyaan di Twitter… Banyak yang nanya.
(-) Ya udah, katanya mau ngasih bocoran…
(-) Siapa tuh @yusuf_mansur?
(+) He he he, Situuuuuuu…
(-) Nah, itu termasuk “kata pengganti” juga adanya, ha ha ha.
(+) @yusuf_mansur menulis tentang doa. Nah pembahasan ini terkait dengan soalan doa. Kan katanya mau ngajarin doa tentang menjadi pengusaha sakses, kaya raya, saleh salehah… Tulisan tentang Come to HIM, Talk to HIM, terkait dengan ini. Bagaimana keinginan kita untuk menjadi pengusaha, ya bicara baik-baik, ke Allah. Sampaikan ke Allah. Jangan hanya disimpan di hati, tidak jadi ibadah. Atau malah mencari manusia, disampaikan ke manusia, baik itu sahabat, pemodal, relasi, calon investor, atau pengusaha sakses, pengusaha senior. Sementara ada Allah, ga diajak ngomong.
(-) Saya tambahin ya…
(+) Ya. Silahkan. Kan ini halaman Situ juga. Sama-sama Yusuf Mansurnya.
(-) Saya bermaksud, kalau orang udah memahami struktur pembukaan dan penutup doa, maka konten menjadi bebas. Apa aja kontennya, walopun kita tidak mengerti tentang doa apa di dalam bahasa arab, atau doa apa yang diajarkan Rasul langsung, jadi ga terlalu masalah. Kita bisa bicara, bisa berdoa, dengan bahasa sendiri. Dengan pembukaan dan penutup yang diajarkan rasul.
(+) Betul. Dengan cara begini, kontennya bener-bener bisa luas. Seorang pelajar, dengan mempelajari pembuka dan penutup doa, akan bisa berdoa dengan doa yang hebat, untuk bisa nembus keluar negeri, dengan beasiswa, dan begitu pulang, peluang kerja dan usaha langsung terbentang.
(-) Betul. Nanti setelah mempelajari Come to HIM, Talk to HIM, seseorang bisa berdoa dengan doa yang hebat di urusan ga punya anak supaya punya, ga punya jodoh supaya punya jodoh, punya hutang supaya bisa lunas, ga kerja, supaya kerja, ga usaha, jadi punya usaha, punya modal, dan seterusnya.
(+) He he he, dua Yusuf jadi diskas ya?
(-) Hehehe, iya, Makasih ya.
(-) Sebentar. Koq Situ yang terima kasih?
(+) Kan saya yang membuka tulisan ini… Lihat saja, siapa yang duluan nanya? Kan saya…
(-) Gedubrak… Sama aja kali. Tapi ya udah dah. Pusing. Sampe ketemu besok. Makasih atas pertanyaannya, saya jadi ga ngebahas hari ini, bahasnya yang lain.
(+) Ga apa-apa. Ok, saya ngucap salam dulu sama semuanya.
(-) Ya, silahkan deh. Take your time…
(+) Sampe ketemu ya.
(-) Iya. Bener juga. Oke deh. Ass…
(+) Eh eh eh, ga boleh tuuuuhhh…. Ass., itu artinya pantaaaaaaatttt… Tahu ga…???
(-) Wow… Panjang lagi nih…
(+) Iyaaaaa… Udah deh. Udah salam. Udah pada mau doa juga.***

 

Untuk semua yang sedang punya hajat, apapun hajatnya, dan untuk semua yang sedang punya masalah, apapun masalahnya, segeralah datang kepada Allah. Dan bicaralah kepada-Nya. Sungguh DIA Maha Mendengar semua keluhan, Maha Mendengar semua permintaan, dan Maha Kuasa juga mengabulkan, dan mewujudkan. Sungguh, tiada yang pantas didatangi, diperdengarkan segala curahatan hati, kecuali Allah. Hanya Allah yang bisa menjaga rahasia. Hanya Allah juga yang punya kemampuan dan kekuasaan, dan Allah juga yang memiliki segala kehendak dan pertolongan.
Kedekatan diri kepada Allah, dan kesabaran meniti jalan di Jalan-Nya, insya Allah akan berbuah ketenangan, dan terangnya jalan hidup.

Sementara itu, tiada juga yang sedang berusaha, bekerja, memiliki usaha, dan pekerjaan, seharusnya ia lebih dekat lagi dengan Allah. Allah yang sudah memberinya segala karunia, justru kadang menjadi yang pertama dilupakan, dilalaikan, disepelekan.

Ga punya modal, minta modal, nyari modal. Sebelom dapat modal, punya modal, sudah lupa sudah lalai, kemudian bertambah-tambah lupanya, bertambah-tambah kelalaiannya.

Kadang Allah memberi kepada seseorang, padahal orang tersebut sebenernya tiada datang kepada-Nya, tiada meminta kepada-Nya. Barangkali Allah menghendaki orang tersebut menjadi jala rizki bagi hamba-hamba-Nya dan alam ini. Namun berlimpahnya karunia, rupanya tetap tidak membuat orang tersebut mampu bersyukur. Hingga akhirnya Keputusan itu datang. Keputusan mengurangi, dan mencabut, atau bahkan Keputusan Allah memberinya beban kehidupan yang berat.
Dari sendirian, hingga berkeluarga. Dari tidak punya anak, hingga punya anak. Semua Karunia tentu saja dari Allah. Namun tidak ada Allah di dalam keluarga ini, tidak ada Allah di dalam kehidupannya. Jangankan ibadah-ibadah yang sunnah; dhuha, tahajjud, berbagi, urusan yang wajib pun; shalat 5 waktu, puasa, zakat, haji, berantakan.
Bila ada orang yang tidak bertuhan Allah di kemiskinannya, di keterpurukannya, maka ada juga yang tidak bertuhan Allah di kekayaannya, di kejayaannya. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Di dalam kemiskinan dan kekayaan, kita senantiasa terus bersama Allah. Di dalam kemiskinan kita tangguh, bersabar, dan bersyukur. Dan di dalam kekayaan, kita semakin tangguh, semakin bersabar, semakin bersyukur.

 

Salam dan doa, Yusuf Mansur.

Buku-Buku Diskon 50%–90% di bukuyusufmansur.com.

Pentalogi Twitter 5 Buku dari Rp.250.000 Diskon 90% jadi Rp.25.000

Kun Fayakun Series 5 Buku dari Rp.350.000 Diskon 90% jadi Rp.35.000

Buat yang udah beli bukunya kemarin atau tanggal 23 Juni 2020, InsyaAllah orderan buku-bukunya akan dikirim hari ini. Apabila ada pertanyaan silakan ke Instagram @bukuyusufmansur atau klik ini: https://www.instagram.com/bukuyusufmansur/

Mungkin Anda juga menyukai

11 Respon

  1. Ahmad nurwakhid berkata:

    Bissmillah hirroh maanirrokhim.asskum ustadz,q nurwakhid q skrang lg dililit htang bnyak q pnya aset usha tinggalan ortu rencana kan q jual tp sulit bnget,q sdah berkali2 do”a sama ALLAH entah kenapa rasaya do”a q belum terkabul kan padal htang ku udah klewat btas pembyaran,q bingung ustadz

  2. shantiie lello berkata:

    asalamuaikum pa ustad tolong bantu saya. saya seddang bingung mikirin masalah keluarga jg rrmh tangga yg smkn meraut sy butuh bimbingan pa ustad gini ceritanya sy sdh menikah dgnsuami yg tau agama sy jg pnya kluarga nmn mereka ga tau agama lwt ddidikan suami sy cb salurkan tx kluarga tp susah hingga tejadi sy berantem dgn ortu sendri karna aib yg ga bs sy jelaskan hinga sy mlawat rtu krna ssh tx hdp dijln allah sy sd minta maaf tp td dimaafkan pdhl ksalahan bkn hanya dlm diri sy sendiri sy tkt azab allah sy hrs gmn sy trsiksa pa ustad

  3. annisapurbo berkata:

    kalo saya mah gak sregnya sama qur’an terjemahan inggris itu kata HE,HIM,HIS itu kan kata ganti untuk laki2… padahal Allah kan bukan laki2 atau perempuan… kl bahasa indonesia kan kata gantinya “Dia”. jadi ga merujuk ke laki2 atau perempuan… itu aja tadz.. #kalem

  4. kundaka berkata:

    Assalamualaikum Wr.Wb,

    Coba Anda simak surat Al-Ikhlas, yang berbunyi, “Qul HUWA Allah Ahad”. Kata “HUWA’ dalam bahasa Arab memang menunjukkan untuk dia laki-laki yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi “HE”.

    Jadi, jika Quran terjemahan bahasa Inggris menyebutkan He untuk menuntuk ke Allah, tidaklah melanggar sisi kebahasaan ataupun sisi Aqidah.

    Nah, begini penjelasannya. Lafaz Allah dalam bahasa Arab memang bersifat maskulin. Sebagaimana lafaz Muhamamd bersifat maskulin, begitupula ‘Ali, Umar dan Utsman. Sebaliknya lafaz A’isyah, Maryam, Hafshah, Ummi bersifat feminin.

    Yang menarik, lafaz Khuzaimah itu maskulin. Namun karena memakai “…ah” diakhir kata diduga oleh orang Indonesia bersifat feminin. Akhirnya, dinamakanlah anak perempuannya dengan Khuzamah 🙂

    Analoginya dalam bahasa kita adalah: Syarif itu maskulin, sedangkan Syarifah itu feminin. Tetapi tidak semua yg pakai “…ah” di akhir kata adalah perempuan. Bagaimana dengan Syaifullah? Heheh…

    Dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, semua kata mengandung salah satu sifat, apakah itu feminin atau maskulin. Tidak ada satu kata ganti pihak ketika dalam bahasa Arab yang bersifat netral, sebagaimana dalam bahasa Inggris ada “it” (dia benda), dan dalam bahasa Indonesia lebih netral lagi: “dia” saja, atau bahkan “beliau”. Jadi, kalaupun kata Allah bersifat feminin, tidak akan merujuk bahwa Allah itu perempuan; sebagaimana kalau diterjemahkan menjadi “He” tidak berarti kita menganggap Allah itu lelaki!

    Allah tentu saja bukan lelaki dan bukan perempuan. Namun, dalam bahasa Arab dan Inggris, kejelasan status feminin atau maskulinnya suatu kata akan sangat berpengaruh pada gramatika kata selanjutnya. Jadi, kaidah kebahasaan mengharuskan kita memilih satu kata untuk menyebut nama Tuhan kita, dan kata itu, dalam kaidah bahasa Arab, tidak ada yang netral. Meskipun dalam bahasa Inggris ada “It” yang “sedikit” netral, namun kata ini menunjuk kepada ia yang tidak bernyawa.

    Ini murni masalah (rasa) bahasa. Contoh lain, dalam bahasa Indonesia dan seluruh bahasa daerahnya kata ganti pihak kedua (Anda/kau) memiliki sekian banyak varian tingkatan (kasta). Tidak demikian dengan bahasa Inggris yang cukup dengan “You” saja. Sedangkan dalam bahasa Arab kembali dibedakan antara maskulin dan feminin. Untuk kata ganti pihak pertama bahasa Arab dan Inggris sepakat untuk tidak membedakan kasta (Ana/I dan Nahnu/Our), sedangkan bahasa Indonesia dan seluruh bahasa daerahnya memiliki sekian banyak kasta (Aku/Saya).

    Akhirnya, inilah kelemahan bahasa manusia dalam mengungkapkan Dzat Allah. Maha Suci Allah dari segala kekurangan bahasa manusia!

  5. dewi berkata:

    Coba deh skali2 belajar linguistic..insyaAllah pasti ngerti kenapa pakai kata “HE/HIM/HIS” …itu memang sudah dipakai sejak lama.. disebutnya sexist language..tp bukan berarti mengacu klo Allah itu *laki2*.

  6. Leli Puji Astuti berkata:

    Asslmkum wrwb.
    Ustadz, sy janda. Sdh hmpir 1 th bercerai. Sy sdg mempunyai hajat, yaitu mendptkan jodoh suami yg terbaik mnrt Alloh utk dunia & akhrt sy. Alhmdllh setiap bln sy mengusahakan sedekah sbsr 500rb utk anak yatim ato org yg membthkan, kadang ke daruul quran jg. Sy pun berusaha merutin kan sholat dhuha, & sholat sunnah lainnya. Insya Alloh, 11 Maret 2013 sy umroh. Ustadz, apa yg harus sy lakukan agar hajat sy dpt dikabulkan Alloh. Sy jg mhon didoakan, oleh ustadz. Sebelumnya trmksh. Wasslmkum wrwb.

  7. ike berkata:

    ustadz, mohon petunjuk, doa ataupun dzikir apa yg hrs saya amalkan untuk lekas membayar hutang, ustadz…, saya terkadang “minder” meminta padaNya, krn saya banyak dosa….

  8. Les Privat berkata:

    terima kasih informasi beritanyaa

  9. Rizki berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb. maaf pak ustad, saya ingin mnympaikan pndpt, mnurut saya aku/nya/he itu beda.. kata “aku” tdk mnunjukan pria/wanita.. begitu jg kata “nya”, sering ada kalimat “bersujudlah pada-Ku/pada-Nya” itu sudah jelas, tdk bermakna pria/wanita, tpi kata “he/him” skalipun memakai huruf kapital, masih bermakna dia(laki2).. trimakasih, Wassamu’alaikum Wr.Wb. 🙂

  10. M.RIFAI berkata:

    Jika kau tidak pernah bertanya,
    Kau tidak akan pernah tahu jawabannya.
    Jika kau tidak pernah meminta,
    Kau tidak akan pernah diberi.
    Jika kau tidak pernah melangkah maju,
    Kau akan selalu berada di tempat yg sama.
    Jika kau tidak pernah mengejar yang kau inginkan,
    Kau tidak akan pernah mendapatkannya.
    Jika kau tidak pernah berjuang,
    Kau tidak akan pernah berhasil.

    Mulai dr sekarang,,👇
    KENALI PAYTREN
    GUNAKAN PAYTREN
    BERBAGI BERSAMA PAYTREN
    Hub,
    WA. : 08980424771
    Bbm : 54CEAB64

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: