Cukup Bagi Kita Allah

Cukup Bagiku Allah

Di tulisan ini, saya ingin mengemukakan betapa bila seseorang sudah punya Allah, maka itu sudah sangat-sangat cukup, dan bener-bener cukup, hingga bener-bener dia ga butuh yang lain. Hanya Allah.

Cukuplah Allah.

Baru sampe sini, orang-orang yang ga terbiasa dengan iman, buru-buru tetap akan menyangkal. Dia masih butuh yang lain. Masih butuh duit. Masih butuh ikhtiar. Ga cukup cuma ngandelin Allah. Ga cukup. Sebab apa? Sebab emang terbiasa begitu. Belum terbiasa dengan imannya, dengan keyakinannya.

Saya pun butuh duit, tapi bukan sebagai Tuhan. Saya pun perlu berikhtiar, tapi bukan sebagai Tuhan. Saya malah butuh keberadaan teman, saudara, dan manusia yang lain, tapi saya berusaha mendudukkan mereka bukan sebagai Tuhan.

Tidak bergantung kepada itu semua, dan ga berharap pada itu semua. Sehingga tidak ada juga kekecewaan bila tidak berhasil mendapatkan itu semua, tidak punya itu semua, dan tidak takut manakala tidak punya itu semua. Tidak khawatir sama sekali. Hasbiyallaah.

Cukup bagi saya Allah.

Punya Allah, bersama Allah, ada Allah, itulah sebener-benernya kekayaan. Apalagi yang dibutuhkan oleh manusia bila sudah ada Allah?

Kita kudu cari duit. Kita kudu berikhtiar. Kita kudu bekerja keras, bekerja giat. Tapi itu semua tidak menjadi Tuhan. Kedudukannya bukan sebagai Tuhan. Secara nyata, implikasinya, buahnya, harus selaras. Sebab bukan menjadi Tuhan, maka Tuhannya tetap Allah. Pagi-pagi, tetap menyempatkan dhuha. Sebab buat apa nyari rezeki, kalo yang Punya Rezeki ga dicari. Puji Allah dulu di pagi hari. Sebut nama-Nya. Bertasbih kepada-Nya. Sujud dan ruku’ untuk-Nya. Begini kan cakep!

Pagi-pagi kita sudah menyebut “Allahu Akbar!” Allah Maha Besar. Bukan pekerjaan yang besar. Bukan duit yang besar. Bukan keinginan bahkan yang besar. Tapi Allah yang besar. Bukan segala kesempatan yang besar. Bukan segala peluang yang besar. Tapi Allah yang besar.

Hingga saat ujian kesibukan datang, saat ujian harapan datang, misalnya ada peluang dapat duit, tapi harus meninggalkan dhuha, seseorang tetap mengedepankan dhuha. Sebab semua peluang itu ga ada harganya dibanding dhuha.

Lagian, seberapa lamanya sih, “sekadar” dua rakaat? Pagi-pagi kita sudah banyak memuji Allah. AllahuAkbar itu ada di gerakan pertama setelah niat shalat dhuha.Apa yang kemudian kita baca? Sebelum al-Faatihah? Semuanya pujian. Semuanya kalimat pengesaan terhadap-Nya.

“Allahu akbar kabiiroo. Walhamdulillahi katsiiroo.” Lihat. Kalimat-kalimat ini begitu indah. Menghadapkan wajah, hati, pikiran, keyakinan, iman, tauhid, FULL kepada Allah saja.

Allah, Engkau lah Yang Maha Besar. Segala puji bagi-Mu, dengan pujian sebanyak-banyaknya. Kami bisa ngontrak, sebab kemurahan-Mu. Kami bisa tinggal di rumah yang tidak bocor, kami bisa tinggal dengan istri yang kami sayangi, kami cintai. Kami bisa beroleh anak. Kami bisa tidur satu kamar. Sementara yang lain, kamar banyak, tapi anaknya pada ga ada. Istrinya pun pada ga ada. Plesir sana, plesir sini.

He he he,menghibur hati. Tapi ya pujian itu ya begitu.

Silakan diamalkan ya. Salam, Yusuf Mansur.

Tulisan ini sudah dibukukan dalam buku “Believe” sedang diskon 50%

Silakan klik ini : Buku “Believe

Buku-Buku Ustadz Yusuf Mansur Diskon 50%–90% di bukuyusufmansur.com.

Pentalogi Twitter 5 Buku Rp.25.000

Kun Fayakun Series 5 Buku Rp.35.000

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: