Dari Terpaksa Lalu Jadi Kebutuhan

sedekah 2

 

Logika duniawi, memang tidak ‘’sampai’’ untuk memahami matematika sedekah. Pun demikian mulanya buat Erni Pratiwi (60). Saat disuruh bersedekah begitu saja, dia awalnya tak terima mengingat kondisi finansialnya yang tengah redup.

“Waktu itu saya sedang dalam problem pendapatan, mosok malah disuruh berderma?” kenangnya.

Saat itu, tahun 2004, usai ia pensiun ia jobless. Bingung juga, apa uang pensiun cukup untuk hari tua?

Suatu saat, ketika sedang jalan-jalan di Jakarta, sebuah spanduk terbentang di pinggir jalan. Spanduk itu berbunyi: Kaya Dalam 40 Hari, bersama Ustadz Yusuf Mansur. Erni pun penasaran, ingin bertemu dengan Ustadz kondang itu. Takdir pun menggiringnya bersua dengan Ustadz Yusuf Mansur suatu hari, di Masjid At-Tin, Jakarta Timur.

Saat Ustadz Yusuf datang, Erni sengaja duduk di depan. Erni mengeluarkan HP Komunikatornya. Ustadz pun langsung nyeletuk,” Wah, itu hp disedekahkan saja.” Tentu saja, Erni menggerutu dalam hati,” Ini gimana sih, hp ini kan buat merekam ceramah, bukan buat disedekahin!”

Tapi Erni memang sedang diuji. Ustadz Yusuf Mansur kembali melontarkan “perintah” supaya dirinya mensedekahkan hpnya. Erni tetap berkeras, dan pikiran piciknya pun minor terhadap ustadz Sedekah itu.

Sampai akhirnya, di penghujung pengajian, ada sorban beredar di tengah-tengah jamaah. Sorban itu disorong-sorongkan ke jamaah. Tak terkecuali Erni. “Ah, terlalu,” sungut Erni. Tapi gimana lagi? “Kalau nggak ngasih malu, kalau ngasih saya kan sedang dalam problem keuangan,” batinnya. Terpaksa deh, 300 ribu rupiah dari 400 ribu yang ada di dompet ia keluarkan.

Dalam perjalanan pulang, hatinya tak henti-henti memprotes Ustadz Yusuf. “Ustadz apaan sih itu, saya merasa di-fait accompli,” rutuknya.

Namun, dua bulan kemudian, Masya Allah! Erni ketiban proyek senilai Rp 1,6 miliar di bidang konsultasi Manajemen SDM.

Dan itu bukan yang terakhir. “Sekarang saya sedang mengerjakan proyek konsultan di 34 rumah sakit Pemerintah seluruh Indonesia,” ujar Erni yang tinggal di Taman Meruya Ilir, Jakarta Barat.

Dampak sedekah itu tak terkait dengan materi saja, tetapi juga keselamatan, kesehatan, ketenangan dan sebagainya. Seperti ketika Erni sedang berjalan bersama sopirnya di Lippo Cikarang, ia bisa saja tercabut nyawanya karena kecelakaan fatal yang hampir terjadi, yakni tubrukan dengan kendaraan lain.

Banyak juga peristiwa-peristiwa lain, seperti rumahnya yang hampir terbakar karena hubungan arus pendek, penyakit DB yang hampir merenggut nyawa cucunya.

“Alangkah banyak kenikmatan yang saya dapatkan. Yang jika saya renungkan, saya menyimpulkan itu efek dari sedekah yang pernah saya keluarkan dulu,” ujar ibu 2 anak, Yosi (37), dan Vira (35) dan 3 cucu: Faisal (10), Raihan (8), dan Syamil (1).

Dalam pekerjaan pun, ia merasa dipermudah. Sebagai konsultan, tentu ia harus bisa menjawab problem setiap proyek yang digarapnya. Pernah suatu ketika, kliennya mengajukan pertanyaan, Erni mengaku sebenarnya ia tidak tahu jawabannya. Tapi ia berikhitiar untuk menjawab sebaik-baiknya. Untung alhamdulillah, kliennya menyatakan puas dengan jawabannya.

Pekerjaannya sebagai konsultan yang sampai kini sangat padat, sebenarnya tak bisa masuk ke akal sehatnya. “Saya ini orang kuno. Orang bilang untuk sukses bisnis, harus membangun networking, tetapi jujur sebenarnya jaringan saya terbatas. Orang bilang kita harus punya effort yang tinggi, nyatanya saya merasa tak punya effort yang baik. Tapi sekarang, dalam waktu begitu cepat, saya banyak dikenalkan dengan person-person penentu kebijakan di perusahaan-perusahaan besar, swasta maupun pemerintah.”

Maka Erni pun seolah diingatkan Allah, ”Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Erni menyerah. Semua ini karena kemurahan Allah bagi hamba-hamba-Nya, yang mau percaya kepada-Nya.

Untuk mensiasati hati dan pikirannya yang suka disusupi rasa was-was oleh setan, saat hendak bersedekah, Erni tidak mau hitung-hitungan lagi. Jika hendak bersedekah, ia akan menyuruh orang lain, biasanya keponakannya, untuk mengambil uang di ATM. Ia minta keponakan tidak memberi tahu, jumlah sisa uang di ATM setelah disedekahkan.

Setiap berada di jalan, Erni juga “sibuk” mencari orang yang butuh sedekah. Misalnya, saat melihat pedagang kue semprong, yang nampaknya tidak laku. Ia akan turun dari mobil, tawar menawar dengan pedagang itu, dan diujungnya, ia justeru membayar lebih. “Saya berharap ia mendapat kebahagiaan mendapat untung lebih tanpa harus merasa disedekahi,” ujar mantan Manager HRD di RCTI tahun 1990-2004.

Bahkan kini, ia sedang berusaha mengamalkan sunnah Nabi, ”Sedekahkan milikmu yang kamu sukai atau butuhkan.” Seperti kisah awalsuksesnya, ketika ia ‘’dipaksa’’ menyedekahkan komunikatornya.

 

Yuk, salurkan sedekah Anda untuk Pembibitan Penghafal Al Quran

Sedekah sekarang

Sedekah Program Pembibitan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like