Dawamin Qiyaamul Lail Sebelum Tidur, Bolehkah?

Bagaimana pendapat kawan-kawan.. tentang boleh ga ngedawamin shalat qiyamullail berjamaah? abis isya langsung. Di pesantren dan atau di rumah. Mengingat ga gampang kalo bangun tahajjud. Harus bangun lebih awal. Sedangkan kegiatan super banyak. Juga malemnya tidur ga bisa terlalu awal. Seringkali diatas jam 22.30an. Shalat qiyaamullailnya bisa diambil yang sering-seringannya. 2 rokaat misalnya. Terus langsung witir. Jadi, setelah ba’diyah isya, langsung aja qiyaamullail. Dan bagaimana jika mengundang sekalian orang-orang banyak? Mengingat banyak yang butuh bantuan dan pertolongan Allah? Itung-itung munajat bareng.

Saya tau, di Socmed banyak kawan-kawan yang ahli fiqh. Saya ingin minta pendapat soal pertanyaan diatas. Jika berkenan, bisa urun rembuk di Kolom Koment: .
.
بِالنِّسْبَةِ اِلَى هَذَا السُّؤَالِ اِخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ اِلَى فَرِيْقَيْنِ اَلْفَرِيْقُ الْأَوَّلُ وَهُمُ الْجُمْهُوْرُ مِنَ الْعُلَمَاءِ مِنْ فُقَهَاءِ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ الْإِجْتِمَاعُ فِى الْمَسْجِدِ كُلَّ لَيْلَةٍ لِصَلَاةِ قِيَامِ اللَّيْلِ بَلْ اِنَّهَا يُمْكِنُ اَنْ تُصَلَّى فِى الْبَيْتِ جَمَاعَةً لِأَنَّ هَذَا هُوَ الثَّابِتُ عَنِ النَّبِىِّ وَلاَ بَأْسَ بِذَلِكَ وَقَالُوْ بِأَنَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ اِذَا تَمَّ الإِتِّفَاقُ عَلَيْهَا لِلصَّلَاةِ فِى الْمَسْجِدِ تَكُوْنُ بِدْعَةً لِأَنَّ النَّبِىَّ لَمْ يَفْعَلْهَا وَلَمْ يَدْعُو لَهَا وَاسْتَدَلُّوْ بِحَدِيْثٍ مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ وَوَافَقَتْ عَلَى هَذَا الرَّأْىِ لَجْنَةُ الْإِفْتَاءِ الدَّائِمَةِ بِالْمَمْلَكَةِ الْعَرَبِيَّةِ السُّعُوْدِيَّةِ وَكَذَلِكَ اَلشَّيْخُ بْنُ عُثَيْمِيْن وَالشَّيْخُ بْنُ بَازٍ
.
.
Mengenai pertanyaan tersebut, para fuqaha berbeda pendapat menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang merupakan mayoritas ulama dari fuqaha madzhab Maliki dan madzhab Syafi’i dan Hanbali bahwa tidak boleh di satu masjid di setiap malamnya untuk melaksanakan qiyamullail berjama’ah, tapi bisa dikerjakan di rumah secara berjamaah. Ini berdasarkan hadits Nabi, dan sholat qiyamullail berjamaah di rumah tidak menjadi masalah. Mereka juga menambahkan bahwa ibadah tersebut kalau terjadi kesepakatan bersama untuk dilakukan di masjid secara berjamaah merupakan perbuatan bid’ah karena Nabi SAW tidak melakukannya, dan tidak pernah menganjurkannya. Mereka berdalil dengan hadits: “Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru di urusan kami ini yang bukan berasal darinya maka dia tertolak” Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi Arabia mengikuti pendapat ini begitu juga Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Syaikh bin Baz. .

Baca selanjutnya

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like