Fokus Pada Tazkiyatun Nafs

Saya bertahun-tahun mengalami masa sulit. Bertahun-tahun juga, saya susah. Itu terjadi rentang waktu antara 1997 sampai dengan 1999. Setelah itu pun, saya masih susah, masih sulit. Hingga kemudian, Alhamdulillah, kesulitan dan kesusahan tahap pertama baru selesai di 2006.

Salah satu pelajaran berharga yang saya temukan adalah bahwa penghalang rizki itu salah satunya ada di diri saya. Hati ga bersih, ga jernih. Pikiran ga bersih, ga jernih. Perasaan, otak, akal, ga bersih, ga jernih, kotor.

Segala rupa penyakit hati seperti belagu, sombong, congkak, tinggi hati, kemudian nyalahin orang mulu. Ga mau denger nasihat. Males dateng minta nasihat. Hidup banyakan stressnya. Jauh dari bercanda. Jauh dari humoris. Ga riang, sebelan. Tenggelam dalam kekecewaan dan dendam. Mengeluh mulu. Pesimis. Ga optimis. Kecil ati. Suka mengumpat. Suka nyumpahin. Suka marahin orang-orang. Suka mengutarakan kesusahan juga ke yang lain. Gampang emosian. Akhirnya, gampang puyeng juga dan kemudian saya mendapati, rizki, mental melulu.

Hingga saya “menemukan” Wisatahati, perhatikan dalam tanda kutip menemukan, Wisatahati, yang kemudian menjadi judul buku. Bahkan kemudian, menjadi serial judul buku.

Pembenahan dan perbaikan. Perubahan dan peningkatan harus dari dalam diri sendiri. Semuanya, penjernihan diri sendiri. Penjernihan hati, akal, rasa, pikiran, cara pandang, cara bicara, cara menulis, cara mendengar, cara menyampaikan.

Fokus pada tazkiyatun nafs. Penyucian diri. Masih terus berlangsung sampai sekarang atas izin Allah. Semoga dimudahkan Allah terus.

Nah yang saya rasakan, begitu frekuensi berubah positif, kok aneh? Rizki kok ya datang dengan sendirinya dari berbagai arah. Asli aneh! Bahkan saat diam, saat berkontemplasi, tafakkur dalam balutan wudhu dan sajadah, serta suara-suara Qur’an dan Asma-Asma Allah tambah deras mengalir datangnya itu rizki.

Mirip seperti tukang servis mobil. Dalam keadaan ga tenang, dia servis mobil. Dari rumah dia, udah sebel dia. Dia udah marah. Dia udah sedih. Ada hal yang dirasa mengganggunya. Bahkan kemudian, menjadi sesuatu hal berat yang teramat mengganggunya.

Bisa dia betulin mobil? Padahal ini makanan sehari-hari ‘kan? Jawabannya pasti ga bisa.

Hingga kemudian azan ashar berkumandang. Ia pit stop sejenak. Dia bersih-bersih lalu dia ambil wudhu. Kemudian, dia jalan ke Mushalla. Dia menenangkan diri.

Begitu balik dia megang mobil, gak lama, lima menit, ketemu penyakitnya itu mobil.

Kira-kira begitulah ilustrasinya.

Salam, Yusuf Mansur.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: