Yusuf Mansur

Hati-hati dengan Harta Haram

 

 

 

Saudara melakukan sesuatu yang Allah ga suka. Kalau Saudara dikasih peringatan selama tiga bulan ga sadar-sadar, Allah akan pantengin terus Saudara. Allah ulur. Diulur setahun aja, udah gawat tuh. Misal Saudara korupsi senilai 2 juta rupiah. Dua juta ini dikali 12 bulan, jadi 24 juta. Begitu 24 juta itu ‘ditaroh’ sama Allah SWT, ada satu malaikat yang mengatakan seperti ini, “Ya Rabb! Ini rezeki dia ga nyampe 24 juta.”

Nih, ini cuma ilustrasi saya saja. Tentu malaikat ga pakai rapat. Tapi ini ilustrasi Bos, supaya Saudara pada paham. Nih malaikat pada berunding. Malaikat urusan duit berunding sama malaikat urusan badan, urusan penyakit.

Apa kata si malaikat urusan duit, “Itu yang 24 juta bukan rezeki dia tuh, ga nyampe.”

Terus, apa kata si malaikat urusan penyakit? “Ya udah ‘bagi’ gua dah, supaya ada yang keambil.”

Dibagi tuh. Misalkan hitungan kurangnya 10 juta, penyakit yang setara 10 juta dibebani sama dia. Yang celaka Bos, kalau badan kita ga bisa nampung lagi, ditampungin ke istri, ditampungin ke anak. Jadi penyakit istri, penyakit anak. Nih yang Allah bilang wa laa taqtuluu anfusahum. Jangan membunuh diri Saudara sendiri.

Udah gitu, Saudara masih terus bergelimang harta haram. Sampai kemudian harta haram yang Saudara kumpulin mencapai, katakanlah, Rp 200 juta. Muncul di sini malaikat kematian. Apa kata malaikat kematian?

“Eh malaikat duit, minggir! Malaikat penyakit, elu minggir! Orang ini udah menjadi bagian ane.”

Maksudnya bagaimana? Nih, umurnya ga nyampe tiga tahun. Saudara jangan langsung protes ya. Namanya juga ngajar, ini cuma ilustrasi. Ya emang sih kematian ga ada yang tahu. Makaya, hati-hati dengan harta haram.

Artikel ini diambil dari buku saya, Matematika Kehidupan dan akan dibahas secara mendalam di training “Matematika Kehidupan”

 

Exit mobile version