Yusuf Mansur

Jadi Istimewa Karena Shalawat

Salam ya. Sama Ustadz. Kata Pak F. Setiap acara, rutin, selalu ada salam dari F.

Saya nerima dengan senang hati. Gembira. Apalagi berasa ketulusannya. Dari hati. Sampe ke hati.

Di hari2 selanjutnya. Di pekan2 selanjutnya. F nitip salam, sambil ngasih hadiah. Ngasih tentengan. Hehehe. Tar melon. Tar semangka. Tar pepaya. Tar ikan asin. Tar masakan rumah. Tar duit. Dll.
Tambah seneng. Hehehehe.

Setiap ketemu wajah pembawa salam, saya dah duluan bilang, “Ada salam ya? Dari F? Ini? Tentengan? Dari beliau?” Saya kenal kebiasaannya. Rutin. Istiqomah.
Bahkan, salamnya dan hadiahnya, bukan untuk saya saja. Tp untuk istri saya, anak2 saya, keluarga saya, sahabat2 saya, semua yang ikut dengan saya. Maka saya pun mengembalikan salam itu pula. “Salam juga ya. Buat istrinya F. Buat anaknya. Buat keluarganya. Buat sahabat2nya. Buat siapa yang bersama F.” Hingga tibalah hari perayaan. Hari pertemuan.

Saya berharap ketemu F di hari itu. Hari yang penuh kegembiraan buat saya. Sebagai tuan rumah. Hari di mana saya dan keluarga saya, menanti pula tamu2 istimewa. Orang2 dekat. Hari di mana saya dan keluarga, ikut menghiasi dan mempersiapkan hari, agar jadi hari istimewa buat semua yang bersama saya, ikut bersama saya, perhatian kepada saya, dan thd apa yang menjadi gerakan dan dakwah saya. *bersambung…

Baca selanjutnya

Exit mobile version