Yusuf Mansur

Jadi Muslim Kudu Baik

Muslim Ukraina

 

 

Ga muslim aja kudu baik. Apalagi jadi muslim, ya mestinya kudu tambah baik. Dan saya yakin masih buanyak yang baik. Buanget-buanget. Jangan menafikan juga. Bila ada yang salah menilai Islam dan Muslim, ga usah sewot dan marah. Tapi ga perlu membuktikan apapun kepada mereka. Sebab berbuat baik, kudu ikhlas.

Islam itu beauty buanget-buanget. Saya puas, ridho, seneng, menjadi muslim. Ga apa-apa bila ada yang menghujat Islam dan Muslim, sebab barangkali ga tau aja. Ditambah lagi, perilaku sebagian muslim. Walau harusnya adil juga, bahwa kejahatan, keburukan, adalah juga dilakukan sama yang lain.

Kenapa jika muslim jelek, langsung keliatan? Sebab jumlahnya banyak. Jadi langsung keliatan. Ditambah dengan ada yang mem-publish. Ya tambah keliatan. Tapi Allah berfirman, laa takhof walaa tahzan. Ga usah kebanyakan takut dan khawatir. Happy aja. Berbuat aja yang terbaik. Lillaahi ta’aalaa tapi.

Dalam urusan kebangsaan dan bernegara, negeri ini punya kesempatan yang sama untuk semua yang punya niat majuin bangsa dan negerinya. Fastabiqul khairat aja.

Ga usah jadi the loser dengan banyak meratapi, banyak menyesali. Senyum aja. Salaman aja. Bareng-bareng aja. Sambil titip mereka yang berbeda untuk tetep satu tujuan. Karena negeri ini memberi kesempatan yang sama, seyogyanya pemuda Islam juga bangkit. Beri manfaat sebanyak-banyaknya dan kenyamanan bagi semua warna.

Jangan lupa. Kemampuan memberi senyuman, kemampuan salaman, menyalami, duduk bareng, dan duduk bersisian, akan membuat Kita justru mulia. Bahwa kalo orang lain yang jadi pemimpin, bagaimana bisa membela kita? Ya mikirnya simpel aja. Kita cuma butuh Allah kok untuk yang jadi pembela. Bukan manusia.

Maka kita pun ya harus berbaik-baik aja sama Allah. Penuhi hak-haknya Allah, yakni jalankan kewajiban kita. Tar semua hak kita pun terlindungi dengan baik. Dikasih masjid, misalnya, ga dipenuhi. Ga diisi. Lalu bila Allah pinjam tangan orang lain untuk menggusur masjid, ya bukan salah siapa-siapa. Kita.

Yang harus dilakukan oleh ummat Islam saat ini adalah berusaha menjadikan dirinya adalah sebaik-baiknya Muslim. Kemudian berdakwah keluar dengan lembut dan elegan. InsyaaAllah belum terlambat. Bicaranya bukan today, atau next week, month, or year. Tapi berproses alamiah. Biar cintanya juga alami. Bukan paksaan.

Sebaik-baik harta tetep harta yang di tangan mereka yang saleh salehah. Sebaik-baiknya kekuasaan juga begitu. Jadi berkah dan rahmat. Sebab apa? Sebab aspeknya bukan hanya horizontal. Tapi vertikal. Ilahiyah. Visi misi harta dan kekuasaan yang juga berwajah ilahiyah, selain horizontal, jadi nilai plus.

Maka jika ditanya, lebih baik mana milih yang nonmuslim, atau muslim? Jawabannya baiknya perenungan dan bukan sesuatu yang instan. Hindari konflik. Sungguh Kekuasaan tetep milik Allah. Allah akan kuasakan kepada yang dikehendaki-Nya. Jika ada yang salah, maka jangan kita yang salah emang.

Pahami pesan Allah juga sebaik-baiknya. Kenapa terjadi ini terjadi itu. InsyaaAllah jadi arif. Banyak introspeksi diri, dan ketemu kemudian jalan-Nya.

Buat kawan-kawan nonmuslim seluruh tanah air, mari sama-sama bersihin niat dan bersihin diri untuk berbuat yang terbaik buat bangsa dan negara. Barengan. Tapi bila judulnya sudah aqidah, maka tidak ada kompromi apapun. Berbeda bukan berarti tidak bersatu. Biasa aja.

Saat saya melakukan serangkaian kegiatan ekonomi, demi Allah, saya pun berbuat untuk semua ummat. Ga cuma untuk Islam dan Muslimin yang saya cintai. Dan begitulah seharusnya kita. Menjadi rahmat bagi semesta bahkan, dengan segala isinya.

Kita cintai mereka, mereka juga akan mencintai kita. Tapi mencintai karena Allah. Sebab dengan bangga saya mengatakan bahwa Allah, Tuhan saya menyuruh saya mencintai sesama. Ini Perintah-Nya. Saya wajib taat.

Salam,

@Yusuf_Mansur

Exit mobile version