Jangan Malu Melihat Bulan, Jangan Malu Menatap Bintang

RUMPUT“Di mana rumahmu Anti?” Anti bingung. Ia tidak siap menjawab pertanyaan Reha kawannya. Pertanyaan sederhana Reha menjadi tidak sederhana di mata Anti. 

Dengan gagap Anti menjawab, “Rumah saya ada di ujung jalan ini,”

Ditunjukkanlah kepada Reha sebuah rumah yang agak mewah, yang diakuinya sebagai miliknya. Kebetulan rumah itu sedang digembok. 

“Ini rumahmu Anti?” tanya Reha.

Anti mengangguk. “Saya mau membuatkan kamu minuman Reha. Cuma kebetulan kuncinya lagi dibawa pembantu saya ke pasar.”

Tanpa menunggu waktu jeda, Reha merogoh kantongnya dan berkata, “Kunci ini yang kamu maksud? Kunci ini ada pada saya sebab rumah ini memang rumah saya..!”

Keduanya terdiam sesaat.

“Kamu tidak berubaah Anti, saya sangat kecewa. Terimalah keadaan suamimu apa adanya. Supaya kamu bisa merasakan kebahagiaan.”

Anti, 27 tahun, memang kurang menerima kondisi kehidupannya yang apa adanya. Dulu Anti seorang yang kaya raya. Namun keadaan bisa berbalik. Ia banyak meratapi nasibnya setelah suaminya “turun derajat” menjadi tukang las (tadinya memiliki usaha sendiri). kini penghasilan suaminya hanya cukup untuk membeli makan saja. Jangankan untuk membeli rumah, bisa membayar kontrakan saja sudah beruntung.

Kehidupan Anti menjadi sempit. ia tidak bisa berlapang dada karena memandang sempit kehidupannya. kebahagiaan selalu diukurnya dari kacamata orang lain yang status ekonominya lebih tinggi darinya. keributan yang sering terjadi di rumahnya lebih karena ketidakpuasan akan kehidupan yang tengah ia jalani meskipun suaminya sangat menyayanginya.

“Anti.. lihatlah saya. ” pinta Reha. “Apabila kamu lihat dari kemewahan yang saya miliki, niscaya saya lebih senang dari kamu. Tapi lihatlah lebih jauh lagi. Lima belas tahun saya berumah tangga, tidak satu pun anak yang saya miliki. sedangkan kamu sudah memiliki dua anak dengan usia pernikahan di bawah saya.”

Selnjutnya Reha bercerita bahwa satu hal yang membedakannya dengan Anti, adalah bahwa ia sangat jarang mengeluh. Ia merima kehidupannya apa adanya sehingga kehidupannya tetap menyenangkan dan nyaman.

“Sudahlah Anti, jangan malu melihat bulan, jangan malu menatap bintang, hanya karena kamu saat ini menjadi rumput”

 

“Dan jangan engkau tujukan penglihatanmu kepada yang KAmi beri kesenangan dengannya dari berbagai golongan dari mereka berupa perhiasan kehidupan dunia, supaya Kami menguji mereka padanya. Sedangkan rezeki Tuhanmu lebih baik dan kekal.”(Q.S Thaha:131)

 

Dikutip dari buku “Kaya Lewat Jalan Tol”

You may also like...

4 Responses

  1. Samsudin says:

    Bersama ust.yusuf mansur
    *BERBISNIS SAMBIL BERSEDEKAH*
    DAFTAR DI
    http://trenidigital.com/syam75

    WA : 089623206203
    BBM : 5ba9dacd

  2. IinSartika says:

    Mau berbisnis sambil bersedekah?
    Yuk daftar PayTren saja.
    Ownernya Ustadz Yusuf Mansur.
    In shaa Allah sukses bisnisnya berkah hidupnya.

    Info klik http://goo.gl/sGKfY0
    BBM : D55EED6A
    WA : 087885001264

  3. M.RIFAI says:

    Allhamdulillah sekarang kita bisa berbisnis sambil sedekah.. bersama Ustadz Yusuf Mansyur kita beli ulang Indonesia..
    Untuk info dan panduan bisnisnya hub..

    WA 08980424771
    atau daftar gratis dulu di.
    http://www.trenidigital.com/ID56

  4. deni sutisna says:

    Mau berbisnis sambil bersedekah?
    Yuk daftar PayTren saja.
    Ownernya Ustadz Yusuf Mansur.
    In shaa Allah sukses bisnisnya berkah hidupnya.

    Info klik http://trenidigital.com/ID14
    WA : 085693025519

Leave a Reply