Kesederhanaan bukan kehinaan Bag.2

Demi melihat tayangan akan ‘kesederhanaan’ di TV tersebut, Luqman sadar pentingnya kesederhanaan.

Kesederhanaan enak dilihat.

Apalagi di tengah-tengah komunitas masyarakat yang saat ini banyak diliputi oleh penderitaan dan kekurangan.

Menjadi tidak wajar bila kita berjalan dengan keangkuhan dan kesombongan,

seakan kita yang paling kaya, seakan kita yang paling kuat.

Apalagi di mata Allah, tidak berguna harta sampai ia kita manfaatkan untuk membantu sesama,

dan tidak mambawa manfaat apapun juga kesombongan yang kita pertontonkan.

“… Allah tidak pernah suka kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.’ (al Hadîd: 23).

Kesederhanaan bukan berarti kita tidak boleh kaya, tidak boleh tampil dengan perhiasan.

Tapi lebih pada jiwanya, pada diri yang paling dalam;

  • Kesederhanaan ketika kaya adalah ketika kita mampu berbagi kekayaan itu.
  • Kesederhanaan ketika kuat adalah ketika kita mampu melindungi dan menolong sesama.
  • Kesederhanaan ketika menjadi pemimpin adalah tetapnya tindak tanduk dalam kesahajaan, tidak sombong, dan mengupayakan siapa yang dipimpinnya mendekat kepada Allah, dan meraih keuntungan bersama.
  • Kesederhanaan ketika sukses adalah ketika semakin tumbuh empati kepada mereka yang menderita.
  • Kesederhanaan ketika populer adalah tetapnya ia dalam kesahajaan, tidak besar kepala, dan memandang bahwa
    kepopulerannya ini bukan segalanya.

Inilah di antara rupa kesederhanaan yang sebenarnya, kesederhaan yang jauh dari keserakahan, ketidaktahuan diri, dan mau berbagi.

Sehingga ketika kita tampil dengan kemewahan dan kekuatan yang kita miliki,

wajah kita tetap enak dilihat.

Ketika kita muncul dengan perhiasan yang memang kita punya punya,

dan atribut-atribut keduniaan lain, sikap kita tetap sejuk dilihat.

Memang, kesahajaan akan tetap muncul dari jiwa yang sederhana;

  • Hai keturunan Adam, pakailah perhiasanmu pada setiap masuk masjid, makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.
  • Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah – segala rizki – yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan serta siapa yang yang mengharamkan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, semuanya itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan tertentu untuk mereka saja di hari kiamat. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.

 

You may also like...

5 Responses

  1. Muhammad yusuf al mansur says:

    YA ALLAH, sesunguhnya keagungan ini adalah keagungan milik Mu, kebesaran ini adalah kebesaran milik Mu, kekayaan ini adalah kekayaan milik Mu, dan kekuasaan ini adalah kekuasaan milik Mu, maka kami mohon jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur dan bersabar atas segala nikmat Mu, dan lindungilah kami dari rasa sombong dan berlebih-lebihan YA ALLAH. amin.

  2. Indra says:

    Aslm wr wb,

    Ustadz, saya dengar kalau Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dsb-nya adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang kaya raya. Bagaimana cara mereka melakoni hidup dan kesuksesan?

    Terima kasih.

    Wassalammualaikum wr wb
    Indra Budipratama

  3. Les Privat says:

    Bagi anda yang membutuhkan jasa les privat di area Jakarta, kunjungi website http://lesprivatsmp.net

  4. subhanallah terima kasih tausiyahnya ustad

Leave a Reply to Les Privat Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like