Kesibukan Hari Kiamat

Mereka bertanya : “Wahai Ibrahim apakah engkau takut dengan peristiwa di hari kiamat?
Ibrahim menjawab: “Tentu!”
Mereka bertanya lagi: “Lantas bagaimana dengan orang yang engkau sayangi?”
Dia menjawab: “Kedahsyatan hari kiamat akan membuat ku lupa dengan orang yang ku sayangi

Hingga dikatakan bahwa baginda Musa mengatakan ya Rabb aku tidak memohonkan kepadamu untuk saudaraku Harun
Isa pun mengatakan ya Rabb aku tidak memohon untuk Ibuku Maryam
Ibrahim pun mengatakan aku tidak memintamu menyelamatkan ismail anakku

Semuanya sudah selesai
Maha suci Allah yang agung uakni QS. ‘Abasa 37 “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”

Satu-satunya yang konsisten adalah baginda Muhammad, dia satu-satunya. karena dia telah dperlihatkan oleh Allah neraka juga telah memperlihatkan malaikat maut kepadanya sebelumnya. Allah meneguhkannya

Mudah-mudahan Tuhan mengangkatmu ke tempat yang terpuji inilah tempat yang terpuji

Satu-satunya yang teguh, tidak ada malaikat yang mulia dan Nabi yang diutus kecuali pada hari itu doa mereka adalah “ya Rabb selamatkanlah aku! selamatkan aku!” kecuali baginda Rasul mengatakan “ya Rabb ummatku ya Rabb ummatku”. Salawat dan salam keatasnya

Apakah Rasul seperti ini disiasiakan? Demi Allah tidak akan
Apakah pantas sunnahnya ditinggalkan?
Apakah kita akan melupakan hak-haknya yang harus kita tunaikan?
Apakah kita meninggalkan untuk berjalan di belakangnya dalam urusan kecil maupun besar?

Mari kita jadikan Rasul sebagai tauladan di segala hal dalam kehidupan kita
Mari kita pelajari perjalanan hidup beliau dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari

Semoga Rasul memberikan syafaatnya kepada kita di hari kiamat.

Ulangi dan ulangi mempelajari ini. Pake hati. Munculin rasa ga enak sama Rasul. Kalo ga ada usaha ngejalanin sunnah-sunnahnya. Munculin rasa rindu sama Rasul. Munculin rasa kangen. Sama kekasih Allah yang sangat mulia. Yang bakal ngebela kita dengan izin-Nya. Bershalawat kepadanya aja kita pelit banget. Sedikit banget. Sama sunnah-sunnahnya ga ada perlunya. Kecuali pas kebeneran aja ngelaksanainnya. Bukan karena pengen ketemu dengan nya.

Pelajarin. Berulang-ulang. Sampe dapet feelnya. Sampe kita bisa berjanji, akan mencintai Rasulullaah. Akan belajar mulai menyayanginya. Hingga shalat maghrib nanti, rela nunda pulang, agar bias berjamaah di masjid. Dan ga akan ngangkat pantat, maaf, ga akan ngangkat badan, kecuali jalanin maghrib ga hanya yang wajibnya. Tapi juga dengan ba’diyahnya. Dengan zikir-zikir abis shalat.

Masa Rasul yang pasang badan buat kita, kita ga mau berkorban dikiiiitttt aja dari waktu kita? Terbuat dari apa emangnya hati kita? InsyaaAllah ya. .

Yaaa Rasuulallaah… Salaamun ‘alaik…

You may also like...

1 Response

  1. Trimakasih atas tausyah pk ustad…
    Salam sukses berjamaah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like