Kesusahan dan Kesenangan Itu Seperti Pagi dan Petang

Awal Mula Cerita N

Usia anak N sudah sekitar dua tahunan. Ada kabar. Suaminya dirawat di rumah sakit di suatu kota. Kabarnya, suami menggelandang. Hilang ingatan. Dan kemudian Alhamdulillaah ada yang mengenali hingga kemudian dikontak keluarga dan dibawa ke rumah sakit di daerah tempat orang tuanya tinggal.

Dua tahun sepuluh bulan, hampir tiga tahun, N diselimuti kesedihan. Ketidakjelasan kabar suami. Hingga kemudian tekanan jiwa sebab dikasihani orang banyak, begitu menyiksanya.

Temannya N adalah sajadah, Qur’an dan tasbih. N masih beruntung sebab masih ada kesibukan. Bantu toko orang tua.

Sesekali N ditawari menikah. “Sudah. Suamimu itu mungkin tenggelam. Ga ada kabar. Ya sudah gak apa-apa dianggap cerai saja. Kamu masih muda.”
N bertahan. N masih cinta sama suaminya.

2018, N umrah bareng suami yang sudah kembali lagi normal. Rupanya, sejurus dengan berita gembira yang didapat suaminya, suaminya kena korban pemukulan hebat. Dirampok dengan disertai penganiayaan. Cerita berlanjut tanpa bisa ditebak. Ga ada yang kenal juga. Baru saja tiba di kota berbeda. Semua identitas ga ada. Rekam jejak ga ada. Hingga kemudian ketemu Takdir Allah yang indah. Ada yang mengenali.

N bilang, kesusahan demi kesusahan, kayak kemaren sore aja. N membayangkan, kesusahan suami pasti lebih susah lagi. N dan suami bilang, kehadiran bayinya, harus ditebus dengan kesusahan mereka berdua. Yang mungkin, kebaikan saat remaja dan dewasa sebelum menikah, ga cukup buat bayar kenikmatan nikah dan punya bayi. Sebuah baik sangka yang luar biasa. Baik sangka penuh ridha.

Hidup N sudah beda. Sudah senang lagi. Sudah ceria. Sudah ada dede bayi juga di 2019. Dan suaminya, penuh menjalankan tokonya bersama-sama.

Kesusahan dan kesenangan, bener kata Qur’an. Kayak pagi dan petang aja. Atau seperti baru kemaren aja. Hari yang terjalani inilah hari kita. Semoga kita jalani penuh syukur dan sabar. Penuh kasih dan cinta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: