• home ym com


Kisah Hijrah: Hijrah Dan Memulai (Mengisi) Titian Berkah

Oleh Albar Rahman

Ungkapan hijrah begitu indah terdengar, sungguh istimewa pengamalannya. Berbicara tentang hijrah maka pembaca budiman akan dibawa pada kisah- kisah inspiratif nan mulia. Betapa hijrah tidak saja berbicara tentang perubahan atau revolusi melainkan lebih hebat dan dahsyat dari sekedar sebuah perubahan maupun pembaruan.

Dunia besrta peradaban terbaik yang pernah ada ialah peradaban Islam. Peradaban ini berawal dari sebuah peristiwa hijrah sang Nabi SAW, hingga Michel H. Hart dalam bukunya The 100 A Rangking of the Most Influential Person in History menempatkan Nabi Muhmamad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia sepanjang masa. Ekspansi peradaban Islam dari bobroknya Jazirah Arab menuju penerangan sekaligus pelita kemajuan di dataran Eropa hingga menebar indahnya dakwah kebenua Asia dan penjuru dunia lainnya. Inilah hijrah sejati, tidak hanya ekspansi ke penjuru dunia melainkan menabur benih- benih Rahmatan Lil ‘Alamin bagi semua tanpa terkecuali.

Hijrah mampu menjadikan pribadi- pribadi berlian termahal yang pernah ada. Abu Bakar R.A yang lembut, setelah hijrah dan memeluk Islam membenarkan Rasulillah menjadi berlian berbalut iman, kegemarannya membebaskan budak saat penindasan umat Islam diawal- awal keIslaman para sahabat, lalu menjadi bintang kedermawanan dikalangan sahabat. Umar R.A, dari keras menjadi pemimpin tegas namun pesona akhlaknya melunakan hati, bukankah ini permata mahal jarang ditemukan. Utsaman bin Affan R.A, sang konglemerat mulia yang dirindu sepanjang masa tersebab keberkahan hartanya hingga kini masih dirasakan manfaatnya. Masih banyak lagi sahabat- sahabat mulia lainnya, karena hijrah menuju gerbang Islam beserta keluhuran pribadi mulianya akhlak.

Hijrah melahirkan titian berkah dalam hidup. Kisah inspiratif dari sahabat Abdurrahman bin Auf R.A, dalam titian berkahnya menjadi teladan bagi semua. Mari melihat titian berkah persembahan Abdurrahman bin Auf R.A[1],

Berhijrah dan memeluk Islam di masa awal- awal penyebaran Islam menjadikan titian mulia hidup harus menghadapi serta berjuang melawan penindasan kekejaman kaum kafir Quraisy. Demikan juga dirasakan oleh sahabat mulia Abdurrahman bin Auf R.A. Begitulah perjalan hijrahnya diawali pengorbanan jiwa dan raga.

Suatu ketika sang Umul Mukminin (Aisyah R.A) mengingatkan sahabat mulia ini tentang hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak”[2]. Dalam redaksi lain, hadits tersebut dilanjutkan dengan kalimat, …”Karena itu, pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, agar dia mempermudah langkahmu.”

Tidak berdiam diri, Abdurrahman bin Auf bergegas sebelum tali- tali perniagaanya dilepas, ia melangkahkan kakinya ke rumah Aisyah R.A lalu berkata, “Engkau telah mengingatkanku suatu hadits yang tidak pernah kulupakan. Maka saksikanlah bahwa kafilah ini dengan semua muatannya beserta kendaraan dan perlengkapannya, aku persembahkan di jalan Allah Azza wa Jalla,” tambahnya. Seluruh muatan tujuh ratus kendaraan itu dibagi- bagikan kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang agung.

Sebuah teladan inspiratif penuh kemuliaan menuju melimpahnya keberkahan hidup. Khalid Muhamad Khalid berujar, “Peristiwa yang satu ini saja sudah cukup untuk mengukir sebuah gambaran yang sempurna tentang kehidupan sahabat Rasulullah, Abdurrrahman bin Auf. Dialah saudagar yang sukses, lebih sukses daripada kesuksesan yang pernah ada. Dia merupakan orang kaya dengan kekayaan yang melimpah ruah. Dia adalah seorang mukmin bijaksana, yang tidak ingin bagian dari keuntungan agamanya hilang begitu saja, dan tidak sudi kekayaannya membaut dirinya tertinggal dari kafilah iman dan pahala surga. Untuk itu ia mendermakan harta kekayaannya dengan Kemurahan hati dan kesadaran nurani.”

Jalan mulia penuh keberkahan dengan mencari ridha-Nya penuh kesungguhan dan kesetian sejati. Setelah peristiwa di atas adakah didapati sahabat Abdurrahaman bin Auf R.A kehabisan kekayaan?. Sungguh , setelahnya kekayaan sahabat mulia ini bertambah beriring limpah ruah keberkahan.

Suatu hari keuntungannya dalam berniaga sangat besar hingga mencapai batas yang membuat dirinya sendiri merasa heran, sehingga ia berkata, “Sungguh, aku melihat diriku ini seandainya mengangkat batu niscaya kutemukan emas dan perak dibawahnya.” Itulah Abdurrahman bin Auf R.A. Pada kesempatan lain, ia menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan tentara Islam. Pada hari yang lain, ia menyerahkan seribu lima ratus kendaraan (unta). Menjelang wafat, ia wasiatkan 50 ribu dinar untuk diinfakan di jalan Allah. Ia juga berwasiat bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing- masing mendapatkan 400 dinar, hingga Utsman bin Affan R.A juga mengambil bagian dari wasiat itu, meskipun termasuk orang kaya. Ia berkata, “Harta Abdurrahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa keselamatan dan keberkahan.”[3]

Teladan yang menggambarkan totalitas dalam ketaatan, jiwa dan raga serta harta hanya untuk menggapai keridhaan Allah Azza wa Jalla. Kisah ini mampu menggugah dan mengajak segenap manusia untuk maksimalkan diri dalam taat. Demikianlah adanya dimana konsekuensi hijrah dan memulai serta mengisi titian berkah hingga penghujung hayat perlu memperjuangkan segala yang ada. Segalanya untuk Allah, demi Allah serta karena Allah. Semoga penulis dan pembaca budiman menjadi pribadi hijrah sejati dengan memulai kemudian mengisi titian keberkahan disetiap moment kehidupan yang begitu singkat. Lahirlah pribadi- pribadi yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan terbaik, mencontoh sahabat- sahabat mulianya, serta mengambil warisan dan mutiara- mutiara kebaikan dari pendahulu yang setia pada jalan Din (Islam) hingga akhir zaman.

Demikian tutur dan goresan pena yang mampu penulis persembahkan dengan segala kefakirannya, penulis berharap limpahan kebaikan dan keberkahan untuk semua. Dalam hijrah ini sungguh berharap bimbingan dari-Nya, semoga titian hidup  menjadi berkah dengan segala rahmat dan karunia Ilahi. Rahmat dan karunia itu berharap bisa dipetik setiap hembusan nafas, dijajaki setiap langkah dan berlanjut hingga gerbang Jannah (surga) pasti menjadi pintu terakhir tempat menikmati segala karunia dari- Nya.

 

[1] Lihat, Khalid Muhamad Khalid, Biografi 60 Sahabat nabi, 2014, Jakarta: Ummul Qura, halamn. 457- 465, Kisah lengkapnya.

[2] Khalid Muhamad Khalid menegaskan, lihat penjelasan tentang kelemahan hadits ini di Takhrij Ihya’ ‘Ulum Ad- Din, Al Iraqi (3559). (Al- Khurasyi)

[3] Khalid Muhamad Khalid, Biografi 60 Sahabat nabi, 2014, Jakarta: Ummul Qura, halamn. 461- 462

You may also like...

1 Response

  1. Edy Prasojo says:

    Bismillaahirrahmaanirrahim.
    PAYTREN adalah PROYEK transaksi digital yg dibangun Ustad Yusuf Mansur,
    *BERBISNIS SAMBIL BERSEDEKAH*
    DAFTAR DI
    http://trenidigital.com/eddy86

    SMS; 081294269850
    WA : 0895345959499
    BBM : D76E41D7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.