Yusuf Mansur

Komunitas Muslim di Jepang Promosikan Hijab

Komunitas Muslim di Jepang Promosikan Hijab

 

Tahun demi tahun, agama Islam semakin kuat mengakar di tengah masyakarat Jepang. Jumlah Muslim di Jepang diperkirakan mencapai 70.000 hingga 120.000 jiwa atau sekitar 10 persen diantaranya adalah penduduk asli Jepang sedangkan sisanya adalah warga asing dari Jepang.

Komunitas Muslim Jepang menggelar kampanye hijab sebagai busana wanita Islam. Selain berusaha memberikan penjelasan pada masyarakat tentang jilbab sebagai busana untuk menjaga kehormatan seorang Muslim. Komunitas Muslim Jepang di Shibuya, Tokyo, mencoba mempromosikan hijab sebagai pakaian modis. Promosi tersebut bertujuan meningkatkan ketujuan meningkatkan ketertarikan masyarakat dan memperkuat pertukaran pikiran antara muslim dan masyarakat Jepang, dilansir dari Asahi Shimbun, Sabtu (27/2).

Sekitar 100 orang berkumpul di salah satu Masjid terbesar di Jepang Tokyo Camii, pada Januari lalu. Di sana para pengunjung diperbolehkan mencoba hijab. Acara bertajuk ‘Satu Hari dalam Hijab’ itu diprakarsai oleh empat muslim yang telah lama tinggal di Jepang yaitu Arisa Sakamoto, Okamoto Amna Balouch. Dan dua kawannya.

Acara tersebut mendapat respon positif. Salah seorang pengunjung, Ayano Oki, datang bersama temannya akhirnya menemukan jawaban sesungguhnya dari alasan Muslimah mengenakan hijab.

“Saya dulu menganggap wanita muslim dipaksa (untuk mengenakan hijab, red), maka saya sangat terkejut mengetahui ini adalah tentang pilihan pribadi. Dengan adanya acara ini kesempatan bagus bagi saya (untuk belajar tentang Islam, red) karena saya tidak memiliki kawan beragama muslim. Ujar Oki seperti dikutip di Republika.”

Semakin banyaknya warga non-muslim Jepang yang menunjukkan ketertarikan terhadap fashion bernuansa Islami. Faktanya dalam acara di Tokyo Camii tersebut setengah pengunjungnya adalah masyarakat non-muslim. Ramainya acara ini pun membuat para penyelenggara terkejut.

Balouch, salah satu dari empat penyelenggara kaget dengan besarnya ketertarikan terhadap acara ini dan sangat banyak uang ingin belajar tentang Islam. “Mereka yang mengenakan hijab tidak tertekan atau merasa dipaksa dan mereka sama seperti wanita lain, penuh dengan harapan dan mimpi. Saya percaya para pengunjung memahami poin itu,” tuturnya.

 

(Sumber: republika.co.id)

Exit mobile version