Ladang Amal Bag.1

5,118 Views

Kematian akan membuat manusia kehilangan kerajaan dunia yang ia bangun, tertinggal hanya amal yang setia menemani.

Seorang kawan baik, yang baru saja kehilangan bosnya, pernah mengatakan, “bos saya wafat tanpa membawa satu sen pun kerajaan dunia yang ia bangun.”

Jelas saja. Siapa sih yang meninggal, lalu ia bawa dunianya?

Kawan yang baik itu melanjutkan, “wafatnya bos saya itu, merubah orientasi hidup saya, dan menyadarkan saya pada beberapa hal.

Saya melihat usahanya yang 16 jam sehari, kejauhannya dengan keluarganya,

kerajaan bisnis yang dibangunnya dengan kekayaan yang melebihi ukuran normal,

akhirnya ia meninggal tanpa satupun yang bisa ia bawa…”

Di hari kematiannya pun, banyak orang yang menelan ludah, selain simpatik tentunya,

melihat kenyataan sejarah terbujur kakunya seorang anak manusia yang menjadi ‘orang’,

dan di sekitarnya masih terpampang jelas atribut kekayaannya,

tapi tak satupun ia bisa raih lagi.

Kematian telah memisahkan ia dari semua hal yang di sekitarnya.

Masih kata kawan yang baik tersebut, “untunglah sejauh penglihatan kami, sebagai kawan, karyawan, dan saudaranya, ia adalah orang yang cukup baik.

Banyak kebaikannya yang kami rasakan.

Kami bisa hidup sebab usahanya. Kami bisa makan sebab perusahaannya yang ia dirikan.

Dan ia pun ringan tangan dalam membantu kami semua.

helping_hand

Dan saya kira, inilah hartanya satu-satunya yang bisa ia bawa. Harta berupa kebaikan amal.”

Betullah sang kawan tersebut, kematian bos-nya juga membawa kepada kenyataan yang harus diperhatikan sungguh-sungguh, betapapun kekayaan yang dimiliki seseorang, keluasan wilayah kekuasaan, kehormatan, gelar dan segala atribut yang dimiliki seseorang, tidak akan pernah bisa dimiliki selamanya.

Kematian akan mengakhiri kepemilikan itu.


Article written by Admin

7 Responses

  1. Kelik Irvan
    Kelik Irvan March 2, 2013 at 1:31 am | | Reply

    Apakah kita harus sumbangkan semua kekayaan kita, atau ditinggal untuk diwariskan sehingga anak cucu bisa memanfaatkannya?
    Dan menafkahi anak cucu dicatat sebagai pahala atau sudah tidak lagi? Terima kasih jawabannya, pak guru.

    1. rezki
      rezki March 5, 2013 at 2:31 am | | Reply

      Suatu ketika seorang shahabat ingin menyedekahkan seluruh hartanya utk kepentingan dakwah, namun Rasul melarangnya, ia turunkan setengah Rasul tetap melarang, lalu ketika ia akan berikan sepertiganya kemudian Rasul membolehkan namun berkata bahwa sepertiga yang ia sedekahkan sudahlah terlalu banyak, lebih baik ia menyisakan harta utk para ahli warisnya daripada meninggalkan keturunannya sebagai peminta minta.
      Wallahua’lam

  2. setiawan
    setiawan March 2, 2013 at 4:37 am | | Reply

    Menjadi kaya itu penting. Bahkan sangat penting bagi seorang muslim. Namun memiliki kekayaan Amal itu jauh lebih penting.

  3. a212
    a212 March 3, 2013 at 10:54 pm | | Reply

    menjadi kaya bagi orang muslim penting, namun kekayaannya digunakan sebagai sarana untuk mengkayakan amal sholeh. bermanfaat untuk diri kita sebagai amal sholeh, bermanfaat untuk sesama sesama dan sebagai investasi akherat kelak…. semoga kita dimudahkan untuk ber amal sholeh….

  4. genborneo
    genborneo March 4, 2013 at 2:03 pm | | Reply

    kekayaan yang digunakan di jalan Allah dlam membangun dan membela agama tentunya lebih bermanfaat ketimbang menimbun untuk keegoisan

  5. Muhammad yusuf al mansur
    Muhammad yusuf al mansur March 4, 2013 at 3:51 pm | | Reply

    YA ALLAH, Engkaulah yang maha menguasai alam semesta, hanya milikmulah langit,bumi,dan seluruh isinya. YA ALLAH, sadarkanlah kami hamba-hamba Mu bahwasanya milik Mu pulalah semua harta yang ada pada kami, maka untuk itu kami memohon pada Mu, jadikanlah semua harta ini sebagai jalan bagi kami menuju diri Mu YA ALLAH. amin

  6. parta suryana
    parta suryana March 6, 2013 at 4:43 am | | Reply

    Smoga ini semua membawa hikmah bagi kita Amin………………..

Please comment with your real name using good manners.

Leave a Reply

facebook like