Mereka akan senang selamanya?

Ibarat layang-layang, mereka akan diulur sejauh mungkin untuk kemudian dengan sekali tarik mereka akan putus dan jatuh terhempas ke bumi. Inilah sebagian tamsil mereka yang berbuat dosa.

Adakah riwayat para pendosa yang senang selamanya? Adakah riwayat para pelaku kemaksiatan akan bahagia selamanya?

Adakah penganut tradisi instan dalam mencari kesenangan mendapatkan kesenangan selamanya?

Bila melihatnya sepintas, nampaknya jawabannya adalah ada.

Tapi bila kita mengikuti riwayat kehidupannya, melihatnya dari dekat, kita akan menemukan bahwa mereka sebenarnya tidak bahagia sama sekali.

Adalah pelaku dosa dan maksiat yang biasanya justru sombong, tidak mau mengakui bahwa mereka sebenarnya tersiksa dengan perbuatan mereka sendiri.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur, dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (al A’râf: 182-183).

Allah menciptakan manusia dengan dua sisi yang fitrahnya sama-sama suci, sisi jasmani dan ruhani.

Ketika keduanya kemudian dibawa kepada situasi yang berbeda dengan kesucian awal tentu keadaan menjadi berbeda.

Pada suatu waktu, jasmani dan ruhani nampak seperti ‘setuju’ untuk dibawa maksiat dan dosa. Tapi kelak mereka akan memunculkan sifat aslinya, tunduk dan patuh pada Rabb-nya.

Pada saat itu, boleh jadi jasmani dan ruhani, sebagai dua sisi dari manusia akan menampakkan penolakannya.

Bentuk penolakannya bisa berupa kegelisahan dan keresahan.

Jangankan terhadap manusia-manusia yang jahat, terhadap manusia-manusia yang kering kebaikan saja mereka akan menunjukkan protesnya.

Sehingga kadang-kadang kita temukan ada orang yang merasa ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya.

Mereka tidak mampu menemukan sesuatu yang hilang tersebut sampai kemudian mereka kembali kepada Allah.

Banyak juga yang kita temukan dalam kondisi kegelisahan yang berkepanjangan, tak mereka temukan jawabannya.

Kembalikan kehidupan pada fitrahnya.

Tidak bisa selamanya kita bisa tertawa lantaran kita bisa meraih jabatan yang kita kejar dengan cara-cara tidak hormat.

Tidak bisa selamanya kita bisa tertawa dengan kedurhakaan kita.

Tidak bisa selamanya kita bisa mengumbar nafsu dan keinginan singkat. Tidak bisa.

Kita harus segera kembali. Kembali kepada fitrah kita, kesucian. Kita toh semua berkehendak kembali kepada Allah dalam keadaan yng kembali suci.

“Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai pada hari yang padanya pemandangan mencengangkan.” (Ibrâhîm: 42).

You may also like...

8 Responses

  1. ajef says:

    Subhanallah. Sangat setuju ama artikel ini. Banyak yg ingkar pada Allah malah menemui dirinya kosong melompong, hampa walaupun bergelimang harta. Hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang

  2. luki says:

    سُبْحَانَ اللَّهِ
    Smua adalah kebenaran Ɣªήğ dtg dari اللّهُ …d dunia ini sy sudah merasakan kegelisahan dan keresahan itu hingga sy kembali dgn skuat daya dan do’a dari istri trcinta kpada jalan اللّهُ
    Maha Suci اللّهُ dengan Segala Firmannya

  3. dewi yana says:

    Semoga kita tidak menjadi hamba yg terus menerus kita selalu dapat hidayah Allah utk bertobat dan semoga kita bisa menjaga hati kita agar tdk mati, karena tertutup dosa2 dan maksiat yg kita lakukan. Jika kita jauh dari Allah dan kita masih bisa merasakan ketidak tenangan, berarti hati kita masih hidup, yang perlu kita lakukan adalah segera kembali pada Allah

    “Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan.” (R. Al Hakim)

    Dalam hadits lainnya, dari Nawas bin Sam’an, Nabi saw bersabda, “Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia. (HR. Muslim no. 2553.)

    Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al Fath [48]: 4)

  4. hendri eka saputra says:

    Ƴɑ̤̥̈̊ªªªª alloh ampuni segala dosa dosa hamba :'(
    آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

  5. tuti fatimah says:

    Yaa Allah ampunilah segala dosa2 ku……

  6. Amanda says:

    Bagus dan bermanfaat

  7. mala says:

    izin share ust. terima kasih.

  8. sangat membantu artikelnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like