#ngelirik

#Ngelirik 1. Coba lirik ditoko2 retail yang saat ini Sedang berkembang pesat, mereka bebas jual minuman keras..

#Ngelirik 2. Bahkan bukan ditempat yang disembunyikan, tapi justru dideretan paling depan. karena mereka berani bayar.

#Ngelirik 3. Kalo ada yang beli minuman keras, yang ngelayani banyak juga yang pake jilbab. Sangat2 fenomenal.. Ampuuuuun..

#Ngelirik 4. Di restoran2 mereka juga jual minuman beralkohol bebas sebebas2nya.. Bahkan jadi sponsornya.. Hadeeuuuh..

#Ngelirik 5. Lirik juga di hotel2, jadi standar mereka di lemari es kamar ada juga minuman beralkohol, juga di menu2nya.

#Ngelirik 6. Lirik juga di tempat2 pariwisata, kemaksiatan lah yang mendominasi.

#Ngelirik 7. Miris dan sedih.. Kita cuma #Ngelirik tapi nggak bisa berbuat apa2, nggak bisa nyegah, nggak bisa nyetop.

#Ngelirik 8. Kenapa semua itu terjadi..? Mereka bebas berbuat dan kita diam nggak bisa berbuat apa2..

#Ngelirik 9. Ya ya.. Itu semua milik mereka, kita konsumen, kita yang beli barang, kita yang butuh makan, kita yang nginep..

#Ngelirik 10. Beli di toko, makan di restoran, nginep di hotel milik M E R E K A..

#Ngelirik 11. Ya itu semua bukan milik kita.. Sehingga kita nggak bisa membuat aturan.. Tapi MEREKA yang buat aturan.

#Ngelirik 12. Andai toko2 itu kita yang punya, Andai restoran2 itu kita yang punya, Andai Hotel2 itu kita yang punya..

#Ngelirik 13. Pasti akan BEDA ceritanya. Kita boleh ngatur, bahkan memang harus kita yang ngatur..

#Ngelirik 14. Bisa ngelarang minuman keras dijual, bisa nyetel murottal, bisa nyuruh sholat + ibadah lainnya. Subhanallah.

#Ngelirik 15. Sehingga kita nggak hanya #Ngelirik dan nggerutu dalam hati. Tapi kita bisa berbuat buat ummat.

#Ngelirik 16. Kita bisa dakwah melalui bisnis, melalui ikhtiar dunia, tapi bernilai akherat.

#Ngelirik 17. Pengeeeeeen banget saya ngajak sahabat2 itu ikut berperan dalam “Jihad Ekonomi”..

#Ngelirik 18. Insya Allah.. Insya Allah.. Bismillah dulu semoga Allah mudahkan segala ikhtiar kita..

#Ngelirik 19. Saya ngajak sahabat2 untuk #Ngelirik ajakan guru kita KH. @Yusuf_Mansur dalam program @Patungan_Usaha

You may also like...

11 Responses

  1. faqir says:

    Maaf agak keluar dari materi,

    kenapa ilmu yang baik harus ditebus dengan harga mahal (www.kuliah-online.com)?
    kalau untuk biaya ini dan itu, apakah masih ada keraguan bahwa “Allah menjamin rizki bagi hambanya yang menghidupkan agama-NYA”.

    Ada ungkapan :
    “Kelak diakhir zaman, banyak para ulama hidup dari Islam, bukan islam hidup dari para Ulama”

    Maaf sekali lagi, saya yang faqir bukan bermaksud mengajari tetapi hanya bertanya.

    • widha says:

      Assalamualaikum..
      menurut tausiyah para uztad yg saya dengar, justru sebaliknya.
      kenapa qt tdak mau ‘mengorbankan’ harta demi ilmu?
      bnyak uang qt keluarkan utk having-fun, tpi ketika dituntut utk ‘membayar’ ilmu kita malah protes.

      Dan karna ada yg membayar itulah, Darul Quran bisa memberi utk yg bner2 tidak mampu. Semacam subsidi silang. Semakin kaya, semakin mahal harganya. Semakin miskin, semakin banyak diskonnya.
      Saya rasa itu cukup adil.
      Wassalam

  2. faqir says:

    Dimana letak kalimat “Tauladan kami rasulullah, kami mencintai rasulullah”???
    Dahulu rasulullah dan para sahabat menghabiskan harta mereka untuk berdakwah dan tidak pernah terdengar mereka menjual dakwah untuk kepentingan pribadi bahkan mengatasnamakan rakyat miskin.

    Allah menciptakan hambanya dari lahir tanpa membawa apa2 tetapi Dia menjamin rizkinya selama hidup di dunia, jadi tidak ada yang dijadikan miskin hidup di dunia, kalau yang faqir ini miskin dalam islam maka tidaklah mau yang faqir ini menganut islam. bersyukur dan bersyukur karena rizki tidak selalu berupa harta dan materi, anak istri maupun rumah, coba lihat rizki yang ada pada diri sendiri.

    Apakah lebih mulia orang yang menghabiskan hartanya untuk mencari ilmu tetapi banyak saudara-saudara di kiri dan kanannya kelaparan?

    Berikanlah ilmu yang sejati bukannya ilmu yang semakin menina bobokan masyarakat umum hanya dengan “Syurga & Neraka atau Pahala dan Dosa atau Rizki dan Harta”

    sekali lagi yang faqir ini mohon maaf bukan bermaksud menggurui tetapi hanya mengingatkan.

  3. rohmad says:

    Assalamualikum
    he..he..he.. lha sejak TKsampai Perguruan tinggi sekolah memang biasanya bayar,tapi apakah kita tega sampai kita mengatakan guru-guru dan ustadz kita menjual ilmunya…

    dalam artian luas para guru sekolah kita termasuk ulama juga lho..

    wassalam

  4. ahmad marzuki says:

    jer besuki mowo bea,
    orang pengen pinter kok maunya gratis mulu,…pake nyandarin hadist lg

    Kl ada ustad yg punya bisnis bukannya malah bagus, nabi aja dagang kok….

  5. mutiara says:

    orang faqir yang melihat sesuatu dr sisi negativenya saja, tidak tahu latar belakang tujuannya,

  6. dayat says:

    Ya mungkin saudara faqir tu lupa bahwa nabi Muhammad & kebanyakan sahabat adalah pedagang.Yang namanya rezqi itu dijamin ama Allah kan ada pintu2 nya,ada sebab2 nya.Ga’ mungkin kan,klu ada yg jadi ustadz trus Allah ngasih rezqi lewat bawah bantal aja.

  7. faqir says:

    maaf klo ada yang tersinggung dari komen yang faqir ini

    tapi setahu orang yang faqir ini dagangnya nabi gak pernah jual agama deh…

    atau klo ada yang bisa kasih riwayat klo nabi dagangnya jual agama boleh deh infonya di bagi-bagi

  8. rizki says:

    ga ada yg mahal kalo udah urusan akherat..brapa pun akan d byar..dari pada keburu mati..heeeee..

  9. maydi says:

    Tad kapan ada patungan usaha supermarket/Hypermarket syariah?? yang bebas dari miras dan daging non halal

  10. anne says:

    Assalamualaikum ustadz,
    lanjutkan dakwah lewat bisnis nya ya ustadz. soalnya ada seorang non muslim yang nge-like fanpage ustadz di facebook. dia suka banget bisnis. semoga dia beserta keluarganya bisa cepat dapet hidayatullah. amin. bantu doa ya ustadz 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like