Pakaian Bekas Impor Dilarang, Apa Kata Mereka?

 

pakaian bekas

 

Keputusan Kementerian Perdagangan melarang penjualan pakaian bekas impor disambut dengan berbagai tanggapan. Tanggapan negatif berasal dari para pedagang. Asosiasi Paguyuban Pedagang Cimall Bandung satu suara menolak pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) terkait pakaian bekas yang membahayakan kesehatan.

“Stigmen yang dikeluarkan Mendag merupakan delik temuan sepihak yang perlu dipertanyakan kebenaran faktanya. Kami hampir 20 tahun belum pernah terima aduan dari masyarakat konsumen yang katanya berbakteri tersebut,” ujar Hendrik Tasim selaku humas paguyuban pedagang saat orasinya di Pasar Cimol, Bandung, Sabtu (7/2)

Menurut Hendrik, jika memang pakaian impor bekas diketahui berbakteri membahayakan kesehatan, dirinya dan pedagang lain yang terjangkit terlebih dahulu sebelum pembeli.

“Pelarangan ini akan berdampak pada perekonomian kami karena perdagangan pakaian bekas impor sangat banyak di Sulsel,” ujar Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang, Rabu, (4/2).

Menurut Agus, pakaian bekas impor banyak diperjual belikan di Sulawesi Selatan sehingga menjadi sumber pendapatan sehari-hari. Pakaian bekas impor ini masuk melalui Tawau, Nunukan, dan Parepare. Akan tetapi, Agus mengaku belum menghitung seberapa besar kerugian dari pelarangan penjualan pakaian bekas impor tersebut.

Lain halnya tanggapan dari Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Amin. Amin mengatakan, pemerintah memang perlu menertibkan keberadaan pakaian bekas impor.

Amin mengakui, pakaian bekas hasil impor di Lombok dan Sumbawa, NTB, sudah ada sejak dulu. Pengangkutan pakaian yang dilakukan dari Batam biasanya tanpa dokumen resmi. “Ini tentu merugikan pemerintah,’’ katanya, Kamis (5/2).

Pelarangan penjualan pakaian bekas impor ini memang sedang ramai-ramainya diperbincangkan. Larangan ini bukan tanpa alasan. Kementerian Perdagangan telah melakukan uji coba laboratorium dan hasilnya menunjukkan bahwa adanya bakteri pada pakaian bekas.

Menurut Kementerian Perdagangan, jika pakaian ini digunakan akan menyebabkan gangguan pencernaan, gatal-gatal, dan infeksi pada saluran kelamin.

 

 

(Disarikan dari: http://nasional.republika.co.id dan http://www.tempo.co)

(Sumber image: http://www.tempo.co)

You may also like...

1 Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like