• home ym com


Pelajaran Al-baqarah ayat 30-37

Ngambil lesson dari al-baqarah ayat 30-37. When Allah said, Allah pengen bikin “perpanjangan tangan-Nya” di muka bumi . “Wakil”Nya di face earth, muka bumi. His Representatif. Khalifah-Nya. Malaikat kemudian pada mempertanyakan. Kenapa harus manusia? Kenapa ga kami-kami aja? Manusia itu bahaya, manusia itu senangnya bikin kerusakan. Manusia itu suka menumpahkan darah, suka ribut. Rese. Suka nyusahin. Suka sombong, bodoh.

Lalu Allah memberi pelajaran kepada malaikat.

Ternyata, HIS creation, yang namanya Adam, Nabi pertama, di kemudian hari malah disebut oleh Allah, sebagai de cuzen wan. Yang terpilih. Al Mushtofaa.

Para malaikat hanya tahu sedikit, hanya tahu satu sisi. Padahal banyak sisi. Tapi hebatnya malaikat, mereka mengakui. Lalu berkata, qooluu, subhaanaka, laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa. Innaka Antal ‘Aliimul Hakiim. Maha Suci Engkau. Bener dah. Kami ga ada pengetahuan apa-apa. Ga ngerti apa-apa. Ga paham apa-apa. Kecuali apa-apa yang Engkau Ajarkan. Apa-apa yang Engkau Kasih Tau.
Malaikat pun memuji Allah sebagai Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana.
Dan Allah pun mengatakan sekaligus membuktikan, bahwa bener. Selain Allah, ga tau apa-apa. Ga ngerti apa-apa. Ga paham apa-apa. Allah lah Yang Maha Tahu. Bener-bener Maha Tahu. Bahkan Allah Mengatakan, Maha Tahu Bahkan Yang Tersembunyi. Yang Rahasia. Yang Ga Diketahui Siapapun, Allah Tahu. Maha Tahu. Tapi Allah Juga Maha Bijaksana. Kebijaksanaan-Nya kelak nampak pada perlakuan-Nya kepada Malaikat, Adam, dan Iblis.
Keren. Kudu dijadiin pengajian when when.

Nah terus kita melihat diri kita yang pada sok tau. Yang pada suka menilai. Yang pada suka ngomongin. Yang suka pada menghujat. Yang suka pada nyinyir. Yang suka pada ga suka. Padahal yang dijadikan penilaian dan sandaran, baru segelintir informasi. Baru sangat sumir. Baru katanya. Baru brodkesan. Baru keliatannya. Baru kedengerannya. Baru “agaknya”. Baru “nampaknya”. Koq bisa? Koq ga ada ketawadhuan? Kenapa ga bilang seperti bilangnya Para Malaikat? Dengan mengatakan subhaanaka dst nya? Lebih baik diam. Mensucikan Allah saja. Memuji Allah saja. Jangan kemudian berpendapat, menilai, sok tau, ngomongin, membicarakan, berdasarkan informasi yang tidak ada pengetahuan kita tentang hal itu.
Dan sebagian kita malah menjadi setan. Menjadi iblis. Dengan nyerang. Info yg diterima dan diketahui setan terhadap manusia. Terhadap Adam. Dan Hawa. Sama minimnya dengan Malaikat. Tapi setan melanjutkan, dengan ketidaksukaan. Dengan kedengkian. Dengan ketidakberesan hati. Dan setan memilih memelihara kesombongan dan penderitaan, sampe yaumil qiyaamah. Daripada berdamai seperti berdamainya malaikat.

Dan kisah pun, to be sambunged. Semoga. InsyaaAllah.

You may also like...

2 Responses

  1. Subhannalah …Allah Maha Mengetahui segala Apa yg kita lakukan. Beri yang terbaik untuk amal kita. Dan jangan pedulikan hinaan dan cerca’an orang.

    Trimakasih ustad.. inspiratif banged

  2. Tepat sekali, pelajarannya adalah, jangan terlalu cepat menilai seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.