• home ym com


Pembuka

surat Al Fatihah via wtvlol.blogspot.com

Surat Al Fatihah via wtvlol.blogspot.com

Oleh: Ustadz Jamaludin Abdullah

“Sudah baca Al-Fatihah buat bapak?” Kyai sebuah pesantren besar di Jawa Timur itu memastikan pada istrinya sebelum pergi.

“Sudah, Pak.”

“Dua puluh lima kali?”

“Dua puluh lima kali.”

Sang Kyai tersenyum. Juga istrinya.

“O ya, anak-anak juga sudah baca buat bapak, kan?”

“Sudah juga. Insya Allah. Bismillah, bapak berangkat saja. Nanti ibu pastikan. Tadi baru lihat sepintas saja.”

“Bapak juga sudah baca buat ibu dan anak-anak, masing-masing dua puluh lima kali.”

“Terimakasih, Pak”

“Terimakasih juga, Bu.”

Mereka bersalaman. Sang instri mencium tangan suami, sang suami mencium kening istri. Lalu melangkah.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam.” Istrinya menjawab dengan suara lembut dan senyum mengembang.

Saling membacakan Al-Fatihah adalah ritual harian keluarga Kyai yang lebih suka dipanggil Bapak oleh keluarganya ini. Dia juga memanggil istrinya dengan ibu seperti masyarakat kebanyakan.

Pun, ketika pesantren akan melaksanakan sebuah rencana, misalnya mengirim santri belajar ke luar negeri, beliau akan berdiri di depan santri-santrinya.

Setelah tujuan kepergian dijelaskan, dan nasihat-nasihat yang memotivasi diutarakan, beliau akan menutup dengan meminta santri yang jumlahnya ribuan itu membacakan Al-Fatihah beberapa kali.

Saat-saat seperti itu suasana terasa sakral. Hening. Hanya suara burung terdengar bersahutan memenuhi masjid pesantren itu.

Doa dan bacaan Al-Fatihah dari keluarga dan dari ribuan santri membuat Kyai merasa optimis dan enerjik. Langkahnya ringan. Kepercayaan dirinya mengembang, seumpama layang-layang yang terbang karena terpaan angin. Ya, surat Al-Fatihah baginya ibarat angin bagi layang-layang.

Al-Fatihah, seperti arti namanya, adalah pembuka, pembuka hari demi hari kehidupan sang Kyai. Al-Fatihah adalah penggedor semesta yang dengannya pintu-pintu langit terbuka dan menghamparkan kepada beliau jalan-jalan kemudahan dalam kehidupan keluarga dan cita-cita pesantren.

Baca selanjutnya.

You may also like...

7 Responses

  1. muhammad. maksum says:

    Subhanallah…terharu saya mnghayatinya

  2. Imam Widodo says:

    mksh banyak tadz tausiahnya bermanfaat sekali.

  3. PayTren says:

    Subhanallah..

  4. Abdul Samad says:

    Terima ksh uztadz…

  5. watondo says:

    Subhanallah…sampai berlinang air mata ini membaca kisahnya….terima kasih Ustadz…

  1. Dec 22, 2014

    […] Oleh : Jamaludin Abdullah Sumber: http://yusufmansur.com/pembuka/ […]

  2. Feb 14, 2016

    […] Oleh : Jamaludin Abdullah Sumber: http://yusufmansur.com/pembuka/ […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.