• home ym com


Pesantren Kampoeng Quran Ajarkan Wirausaha

 

pesantren festival

 

Sejak awal, Ustaz Iskandar ingin menamai pesantren ini dengan sebutan Kampoeng Quran. Ia ingin mewarnai kehidupan di kampung-kampung dengan Al Quran, sehingga setiap kampung bisa ter-Alquran-kan. Namun, nama ini baru resmi disandang tahun lalu.

“Waktu itu kan masih di rumah kontrakan. Kadang yang datang masih pakai rok mini. Nanti orang tanya, namanya Kampung Quran kok di dalamnya ada yang pakai rok mini. Jadi, kita pakai nama Baitul Quran,” ujar Ustaz Iskandar, sembari tertawa.

Metode hafalan yang digunakan adalah tikrar. Dalam sehari, para santri wajib menghafal satu halaman ayat Alquran. Mereka diwajibkan melakukan setoran tiga kali sehari. Setelah menghafal satu juz, para santri boleh melakukan setoran per juz dan melanjutkan juz berikutnya. Apabila satu juz tersebut belum dapat dihafal dengan lancar, mereka harus mengulang setoran di juz tersebut.

Kampoeng Quran terbuka bagi seluruh elemen masyarakat. Siapa saja boleh belajar di sana. Selain menyelenggarakan pendidikan bagi santri, Kampoeng Quran juga sering mengadakan berbagai acara. Ada Daurah Qalby, yaitu program menghafal 30 juz untuk mahasiswa, pesantren kilat untuk siswa SD, SMP, dan SMA, serta pelatihan menghafal, khutbah, dan ceramah untuk masyarakat umum.

Tak hanya meliputi hari-hari dengan membaca dan menghafal Alquran, para santri Kampoeng Quran Bandung juga diperkenalkan dengan kegiatan wirausaha. Minimal sekali dalam sepekan, mereka melakukan kunjungan ke pusat-pusat usaha atau praktik langsung berjualan.

Pesantren ini ingin menanamkan kemandirian sejak dini dalam diri para santri yang masih berada di jenjang SMP dan SMA. Minimal, cara pandang untuk membuka usaha sendiri selepas sekolah atau kuliah sudah tertanam dalam diri mereka.

Ide untuk menyebarkan semangat berwirausaha muncul dari Ustaz Iskandar, melihat pengalamannya selama belasan tahun terakhir. Sebelumnya, ia pernah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya. Ketika itu pula, orang tuanya meninggal dunia. Selama 10 tahun belajar, delapan tahun ia habiskan dengan berjualan demi menutupi biaya pendidikan di sana.

Apa saja ia jual. Ia bahkan mengaku pernah menjual petasan semasa masih duduk di kelas ibtidaiyah. Ini tentu saja dilarang. Ia akhirnya menjual barang lain, seperti sarung, peci, koko, buku, kitab-kitab, dan berbagai aksesori. Ia meyakini, berdagang ialah pekerjaan yang dijanjikan oleh Allah SWT sebagai salah satu pintu rezeki bagi manusia.

“Maka saya ingin mendidik orang-orang, paling tidak mereka bisa mandiri untuk dirinya sendiri. Tidak hanya mengandalkan dari ilmu yang dia sebarkan. Dakwah itu dakwah, tapi untuk kepentingan pribadi sebisa mungkin berasal dari kantong sendiri,” ujar dai muda ini.

 

(Sumber: republika.co.id)

You may also like...

1 Response

  1. Patut dicontoh .. great work..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.