Pintu

 

 pintu

 

Bismillaah…

Once upon waktu… There was a gembira couple married. In nainteen nainti nain. They was so poor, but happy. in awal-awal they married, they numpang di mother in law’s house. But she was poor too… The waif had no father. Orphant. Only +/- 40 deys bifor married.

Sorry ya. Ini sekalian saya belajar bahasa Inggris. Supaya berani. Termasuk penggunaan grammar. Language is understanding. Is it ok? Kalo ga nyaman, ya itu bukan karena mata anda, he he he.

Nanti we will see kesalahan… Seperti they itu were. Bukan they was. Tapi ketika bicara, no ngaruh. Ga ngaruh. Berani aja bicara. Pokoknya trust me lah. I’m stupid in english. But you will enjoy it… Just read it, enjoy it. Don’t komenit, wkwkwkwkwk…

Apa sih substansinya? Belajar. Ngajar. Dapat banyak.

Rumah sepasang pengantin baru di tahun 99 saat itu, masih tanah lantainya. Bukan keramik. Ga ada WC juga di rumahnya. Tapi kamar mandi ada. Plesteran semen, tanpa keramik keren macem di rumah-rumah bagus. Kalo mandi, alhamdulillaah, nih pasangan ga usah numpang-numpang. Tapi kalo mau buang air besar, kudu ke empang. Atau numpang.

Istrinya beliau ini pemalu banget-banget. Konon, sejak menikah di 99, istrinya ini baru melihat wajah suaminya 3 bulan setelah akad.

Kamar mandi itu tidak selesai pembangunannya. “Ga ada biaya,” kata ibu mertua si suami yang menjadi mantunya. Karena ga ada biaya, kamar mandi itu tidak berpintu.

Sebelom menikah dengan suaminya, perempuan yang kini menjadi istri, bercerita, “Dulu ga perlu pake pintu, sebab cuma kami-kami aja. Tapi sekarang kudu dipintuin. Sebab ada kaka.” Begitu kata istri tersebut, ke suaminya. Tapi apa daya, suami ini pun miskin sangat.

Tidak mampu ia membelikan istrinya ini pintu kamar mandi. Bahkan menikah pun “hanya” 500 ribu rupiah saja, tahun 99 itu.

Suami istri ini diceritakan menjadikan sedekah sebagai jalan untuk perubahan hidup yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Penganten lain, mungkin akan memulai perjalanan menabung. Untuk kemudian bisa hidup enak. Tapi suami istri ini mengaku beda. Suami istri ini bahu membahu bersedekah. Puasa Daud bersama dilakonin, agar bisa hemat, lalu bisa bersedekah di tengah kemiskinannya.

Suatu saat punya rizki, untuk membeli pintu. Tapi bisikan datang ke hati pasangan ini, sedekahkan saja duit buat masang pintu. “InsyaaAllah kelak Allah akan membayar dengan rumah yang lebih layak.” Begitu bisikan hati suami istri ini. Dan mereka aminkan. Duit senilai pintu itu, dikorbankan. Mereka memilih menahan sebentar untuk tidak memasang pintu kamar mandi.

Banyak suka duka diceritakan pasangan suami istri beda umur ini. Suami saat menikah, 23 tahun, istri saat menikah, 14 tahun. Beda jarak umur ini, menjadikan rumah tangganya seperti kakak adik. Penuh canda.

Kamar mandi itu dikasih tirai. Alhamdulillah kalo istrinya mandi, sang suami, suka basah kuyup. Koq basah kuyup? Suaminya tau istrinya ini pemalu, malah ngegodain. Dia intip istrinya mandi, he he he. Si istri ngambek. Ga mau mandi sebab diintip. Kalo udah gitu, pura-pura keluar rumah. Supaya mau mandi lagi.

Padahal saat istri masuk lagi ke kamar mandi, diintip lagi, ha ha ha. Nah, itulah, beliau cerita, disimber sama istrinya. Rupanya, si istri tau dan siap, bahwa “kakaknya”, yakni suaminya ini, bakal balik ngintip. Dia dah siap dengan air seember. Byurrr!!!

Suka duka. Canda tawa. Akhirnya menghapus rasa bahwa mereka hidup penuh kekurangan. Hidup miskin. Sebab dijalani ceria.

Satu hal yang mantab dijalanin suami istri ini: Bersedekah. Dengan sedekah yang berbeda. Jika yang lain, sedekah dari sisa… Sedekah setelah cukup. Suami istri ini menyengaja memilih jalan sedekah, agar diubah Allah. Sedekah dijadikan panglima. Kelezatan demi kelezatan ditunda, ditahan. Sebab uangnya dipilih untuk disedekahkan. Uang buat beli dan pasang pintu, disedekahkan. Gapapa memilih kamar mandi tak berpintu. Dan Allah pun mengubah hidup mereka semua.

Pesan suami istri ini, tundalah kesenangan, kelezatan. Bersedekahlah yang besar. Supaya Allah memberi yang lebih dari itu semua. Pilihlah jalan sedekah, bukan sebagai kewajiban saja dan rasa syukur. Tapi benar-benar sebagai solusi. Bukan sambil lalu.

Makasih buat e heppi kapel who shared their nais story. Wait another stories. InsyaaAllah. Saya mau berdoa, buat yang belum menikah, agar mereka menikah… Dengan jodoh yang saleh salehah, dan dikaruniai rizki banyak. Aminkan yak.

Salam hormat. Al Faatihah ini untuk semua yang belum menikah dan yang sudah menikah… Silahkan ikut baca… Al Faatihah…

Salam,

Yusuf Mansur

You may also like...

4 Responses

  1. @_tehmanis says:

    Nyesssssssssssssssss…………..banget.

  2. rike kartini says:

    Pesan suami istri ini, tundalah kesenangan, kelezatan. Bersedekahlah yang besar. Supaya Allah memberi yang lebih dari itu semua. Pilihlah jalan sedekah, bukan sebagai kewajiban saja dan rasa syukur. Tapi benar-benar sebagai solusi. Bukan sambil lalu. Niceee story… Nice couples… Bener2 inspiratif sekali kisah ustadz dan istrikan?… Doa utk kebahagian dunia akhirat smg ustadz sklrg dlm rahmat Allah..

  3. Yogi Yuanda says:

    Saat paham hedonism mengakar dimana – mana, namun masih terselip kisah inspiratif tentang kesederhanaan yang mampu berlebihan dalam bersedekah.

  4. Kamila says:

    Aamiin ya Allah

    Assalamualaikum wr wb

    Gabung bersama kami di PayTren USTAD YUSUF MANSUR
    Bisnis sambil bersedekah insak Alloh berkah.
    sukses bisnisnya berkah hidup nya.

    Bisnis yg benar benar bisa buat mandiri dan pendapatan yg luar biasa hebat.
    Info pendaftaran PayTren :
    http://www.leadertreni.net/kamila

    BBM.54152DC5
    WA 081939430454

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like