Rani, Sebuah Kisah Tentang Pertaubatan

 

Rani

Kehidupan seseorang dan akhir kehidupannya ga ada yang bisa menebak dan ketebak. Air mata ini menetes, mengetahui kisah Rani. Malam ini, nyesel dan nyesek dada ini. Tanggal 13 Desember sore, 2014, mestinya saya bisa ketemu Rani. Tapi takdir Allah, ga bisa.

Istri saya, Ustadz Jameel, Ustadz Kupmin, Pak Heri, guru rampak beduk dan keseniannya Rani, yang beruntung bisa ketemu Rani. Rani dan sejumlah kawan-kawan dari LP Tangerang diizinkan Kalapas, untuk silaturahim dan performance Rampak Beduk di Pesantren Daqu.

Istri saya di keesokan harinya cerita, tentang bagaimana bagus dan semangatnya mereka. “Cantik-cantik. Ceria-ceria. Ga keliatan kalo beliau-beliau itu penghuni LP. Dan salah satunya, kena hukuman mati,” cerita istri saya saat itu.

“Penampilan, senyuman, mereka, biasa banget Pah,” kata istri saya lagi.

Saya lalu liat-liat foto-foto dan rekamam video di gadget istri.

Itulah sepenggal dialog di 13—14 Desember. Dan saya menyesali bangeeeeeettt, kenapa lalai, ga bisa memenuhi permintaan Rani.

Apa permintaan Rani? Baca selanjutnya

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. tiyah berkata:

    Ya Allah semoga saja kita semua berakhir dengan kondisi khusnul khotimah

  2. jaelany berkata:

    Amiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn…………..ustad sudah mendoakan semua,,,,,,,,,,,biar saya ikut menyempurnakan sebagai makmum

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: