Resensi Kado Ingat Mati: Siap Hidup, Apakah Siap Mati?

Resensi Kado Ingat Mati

resensi kado ingat mati
image description

Oleh: Siska Artati (TN0233385) – Peserta Fast Track Penulisan Paytren Academy

Judul Buku: Kado Ingat Mati

Penulis: Ustadz Yusuf Mansur

Jumlah Halaman: viii + 150

Tahun Terbit: 2008

Buku ini merupakan satu dari lima Insight of Kun Fayakun series, sebagai referensi untuk mengingat mati, sekaligus mempersiapkan diri menyambut datangnya maut. Buku yang memaparkan sebuah perenungan tentang persiapan saat ajal menjemput, bagaimana bekal yang musti kita bawa untuk menghadap Sang Pencipta, bakal seperti apa  kelak kita bersua dengan-Nya.

Dibuka dengan ilustrasi Jaka, seorang lelaki yang tidur dan kemudian bangun dalam keadaan bingung, karena ia tak menemukan lampu untuk menerangi kamarnya. Ia bingung dengan keberadaannya, karena kamarnya sekarang bak padang pasir yang tak berujung.

Ilustrasi yang disampaikan Luqman pada sebuah acara perenungan ini, mengantarkan juga kisah berikutnya, pembelajaran tentang kematian dari sosok Ihsan, pemakai narkoba. Berlanjut dengan obrolan Luqman dan Irvan di sebuah pesawat saat mereka dalam perjalanan Medan-Jakarta membahas tentang isi Surah Fushshilat (41) ayat 19-23. Mereka membahas sesuatu yang membuat manusia celaka dan susah hidup sebagai perenungam untuk menyambut kematian yang mengubah kehidupan.

Ilustrasi perenungan kematian juga  mengalir dari kisah Tamim, Yanti, Haji Muhidin, Pak Hary dan obrolan Luqman beserta pengurus Wisata Hati. Perenungan tersebut membawa kita pada sebuah pembelajaran agar kesadaran kita tidak sia-sia dalam mengingat mati.

Kesadaran tersebut adalah:

1. Ketika kematian sudah bicara

2. Pergi yang tak bisa kembali

3. Dua penyesalan, ketika kematian datang dan ketika sudah berada di neraka.

Kematian akan menyadarkan yang mati bahwa ia sudah terlambat untuk kembali.

Kematian juga (seharusnya) me yadarkan kitanyang masih hidup, bahwa belum terlambat untuk segera kembali.

Tidak ada perbaikan hidup yang bisa dilakukan oleh yang sudah mati

(hal.29)

Buku Sarat Renungan

Buku yang sarat perenungan dalam mempersiapkan sebaik-baik kematian ini, menyertakan munajat kepada Sang Khaliq di setiap bab pembahasannya. Penulis mengajak para pembaca untuk menengadahkan tangan, bermohon kepada Allah, agar kita benar-benar sadar bahwa kematian adalah hal yang pasti, digilirkan sesuai takdirNya. Dan kesadaran tersebut jangan sampai sia-sia, justru saat kita telah mati.

Penulis juga memaparkan tips dalam mempersiapkan kematian. Contoh kecil kematian adalah saat kita tidur, yang mana roh kita berada dalam genggaman-Nya. Apakah akan kembali atau tidak esok hari, sebab kita tidak tahu apakah nyawa masih melekat atau telah tercabut saat memejamkan mata atau justru saat membuka mata.

Pada jelang bagian bab-bab akhir, disampaikan juga gambaran tentang hari berbangkit atau hari pembalasan, yang mana semua akan ditampakkan apa-apa tentang perbuatan kita di dunia. Mulai sejak dibangkitkan dari kubur, berada di Padang Mahsyar sampai tiba kita berada apakah di surga atau neraka. Perenungan mendalam ini mengingatkan kita agar siap hidup tapi jangan tidak siap mati.

Kita harus benar-benar menyiapkan bekal kelangsungan hidup di akhirat, seperti doa anak yang shaleh/shalehah sebagai investasi dunia akhirat, amal shaleh, dan ilmu yang bermanfaat.

Buku Bandingan

Perenungan mengenai kematian dan keadaan kehidupan yang sebenarnya setelah nyawa tercabut juga disebutkan dalam buku Macet di Padang Mahsyar (selanjutnya saya singkat MPM) yang ditulis oleh Dede Nurjanah, Penerbit Zam-Zam.

Sebagai buku pembanding, buku MPM juga menyampaikan tentang bagaimana kita mengingat kematian, namun dari sudut pandang yang berbeda. Buku ini mengenalkan kehidupan setelah kematian. Setiap insan akan melaluinya di hari kiamat. Buku yang menggambarkan dengan detail keadaan manusia sesudah kematian, yang justru merupakan kehidupan yang sebenarnya dalam kekal keabadian.

Pada buku KIM lebih menekankan perenungan mengingat kematian yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya, sedangkan buku MPM  lebih menekankan perenungan agar kehidupan kita setelah mati tidak macet karena akibat perbuatan-perbuatan kita di dunia.

Secara fisik, buku KIM sangat eye-catching dengan tampilan hardcover, kertas warna di peralihan bab, pilihan jenis huruf yang nyaman untuk dibaca dengan warna-warna berbeda pada tulisan isi materi, kutipan ayat dan munajat doa. Sampulnya memajang foto Ustadz Yusuf Mansur. Foto tersebut menguatkan isi buku.

Sedangkan buku KIM memiliki tampilan sederhana, namun tetap menarik pada judul yang menohok. Karena macet itu tidak hanya di jalan raya atau jalan aliran darah, tapi juga bisa terjadi di kehidupan sesudah kematian. Buku ini menggunakan softcover dan tampilan hitam putih pada isi materi, namun tidak mengurangi makna penyampaikan tentang kematian.

Inilah resensi buku Kado Ingat Mati. Semoga bermanfaat, selamat membaca.

***

Mau membaca buku Kado Ingat Mati? Silakan pesan di: https://shopee.co.id/KADO-INGAT-MATI-i.38307556.614432429

___

Artikel Terkait:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: