• home ym com


Ringan Berhaji Lantaran Sedekah

masjidil-haram-mekah-saudi-arabia

 

“Bila kamu ingin kaya, perbanyaklah sedekah.”  Petuah ibunda tercinta ini begitu lekat di benak M Taufik (49), setelah ia banyak membuktikan sendiri.

Awalnya, Taufik tak percaya pada nasehat itu.  “Bu, kalau mau kaya ya harus nabung dong, bukan sedekah,” kilah Taufik mengemukakan logika biasa. “O, tidak Nak, bila ingin bisa menabung dan jadi kaya, maka bersedekahlah,” tandas ibunda. “Janganlah kita makan yang bukan hak kita, termasuk hak fakir miskin di sebagian harta kita,” lanjut beliau.

Walau belum seratus persen percaya, pria asli Balikpapan, Kalimantan Selatan, ini mencoba untuk melaksanakan pesan ibu.  “Saya coba rutin mengeluarkan zakat yang 2,5% dari gaji saya perbulan,” aku karyawan Pertamina UP 5 Balikpapan ini.

Eh, benar saja. Dengan bederma, penghasilannya bukan berkurang tapi malah bertambah. Taufik merasa semakin mudah saja memperoleh rizki.  Dia pun mulai keranjingan bersedekah.

“Lama-lama saya merasa dan membuktikan, bila kita banyak menolong orang maka Allah semakin memudahkan segala urusan kita,” ujar warga Komplek Pertamina Balikpapan. Ia melanjutkan, “Kita harus menjaga diri agar jangan sampai memakan hak orang lain yang ada dalam harta kita.”

Lebih lanjut suami Ari Wijayanti (47) ini menerangkan, “Makin besar persentase harta yang saya sedekahkan, maka harta yang dapat ditabung semakin banyak.” Bahkan meskipun waktu itu ia mengaku ibadah ritualnya masih pas-pasan.

Berbagai kemudahan yang dirasanya menggiring kesadarannya untuk mulai tekun melaksanakan sholat.  Cobaan untuk istiqomah menghadang di depan mata. “Waktu itu saya melihat, banyak rekan kerja yang rajin sholatnya, tapi pelit bersedekah, padahal gajinya cukup besar.” Fenomena ini membuatnya nyaris tidak percaya pada pentingnya ibadah ritual.

Karena itulah, untuk memantapkan iman, Taufik bertekad pergi haji bersama keluarga. “Mudah-mudahan di sana saya mendapat pencerahan,” dia berharap.

Apa daya, tabungan yang dimilikinya hanya cukup membiayai ongkos haji dua orang. Padahal, anggota keluarganya berjumlah 4 orang. Tapi, Taufik yakin Allah akan memudahkan urusannya ini dengan sedekah.

Benar saja, hanya dalam waktu 5 bulan ke depan, Taufik mendapat rejeki nomplok setelah meringankan hajat seorang teman.  “Rumahnya dijual kepada saya seharga Rp 20 juta. Subhanallah, rumah itu laku dijual kembali seharga Rp 80 juta,” tutur Taufik takjub. Akhirnya, berangkatlah ia sekeluarga ek baitullah.

Selama di tanah suci, Taufik berusaha istiqomah melaksanakan sholat lima waktu.  Cobaan menerpanya. Lantaran pernah celaka yang mematahkan sendi jari manis kaki kirinya, Taufik tak kuat berjalan lama. Sehingga, thawaf dan sa’i sangat berat untuk dia laksanakan. Bahkan ia harus dipapah kedua anaknya.

“Subhanallah, setiap rasa sakit semakin menyiksa, ada saja pertolongan yang Allah berikan,” ujarnya.  Entah dari mana, ada saja barang-barang empuk yang tiba-tiba menjadi bantalan tapak kakinya, seperti kaos kaki, sandal rusak, dan sebagainya.  Hingga semua ritual hajipun kuat dilkoninya tanpa harus digendong.

Di tanah suci, hartanya pun selalu dijaga Allah.  Pernah, beberapakali tas kecil yang berisi uang bekalnya selama di tanah suci hilang tanpa ia sadari.  Tapi selalu saja kembali dan uangnya utuh, tak hilang sepeserpun!  Subhanallah inilah berkah akibat ketakukatannya memakan harta yang bukan haknya!

Sepulang dari tanah suci, berbagai “keajaiban” yang dialaminya selama disana menggiring dirinya pada suatu kesadaran baru. Sholat fardhu coba ia dawamkan. Maka dibangunlah sebuah musholla di rumahnya untuk tempat sholat sekeluarga.  Disamping itu, jumlah harta yang disedekahkannya terus dan terus ditingkatkan.

“Alhamdulillah, beberapa bulan kemudian, saya mampu umroh bersama isteri. Walaupun sebenarnya waktu itu sepulang haji tabungan saya ludes,” kenangnya.

 

Yuk, salurkan sedekah Anda untuk Pembibitan Penghafal Al Quran

Sedekah sekarang

Sedekah Program Pembibitan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.