Yusuf Mansur

“Serukan Perdamaian Dunia” Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Thayyeb tiba di Jakarta”

 

 

Pemimpin tertinggi Institusi Al-Azhar, Kairo, Mesir, Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Ath-Thayyib, dan rombongan tiba di Jakarta, Minggu malam (21/2).

Dalam kunjungan bersejarahnya ke Tanah Air selama kurang lebih enam hari ini, sosok yang pernah menjabat rektor Universitas Al-Azhar dari tahun 2003-2010 tersebut. Didampingi oleh delagasi khusus Al-Azhar yang terdiri dari Prof Mahmud Hamdi Zaqzuq, mantan menteri wakaf Mesir, Anggota Dewan Penasihat Al-Azhar Syekh Muhammad Abd as-Salam, Dekan Fakultas Ushuluddin Al-Azhar Prof Abd Al-Fattah Al-Awari, dan Sekjen Majelis Hukama al-Muslimin Prof Dr Ali an-Nu’ami.

Grand Syekh beserta rombongan nantinya dijadwalkan akan bertemu dengan sejumlah pihak, antara lain: Presiden Joko Widodo di Istana Negara dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Grand Syekh juga akan mengadakan pertemuan dengan Majelis Hukaman Al Muslimin di Hotel Grand Hyatt pada Senin siang (22/2).

Saat mendarat di Halim Perdana Kusama dengan pesawat khusus, disambut oleh Menteri Agama, Lukman Saifuddin, Ketua Umum Ikatan Alumni Al-Azhar (IAAI), Prof Quraisy Shihab, dan sejumlah duta besar negara sahabat.

Sebagai sekjen IAAI, Muchlis M Hanafi mengatakan kedatangan Syekh Al-Azhar di Indonesia membawa misi besar, yaitu menyebarkan perdamaian dan moderasi Islam dari Indonesia kepada dunia. “Grand Syekh Al-Azhar akan, menyampaikan pidato perdamaian dan kemanusiaan untuk dunia,” katanya saat dilansir republika.co.id.

Muchlis M Hanafi yang juga sebagai Pelaksana Tugas Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMA), Muchlis menuturkan kunjungan ini sangat penting untuk mempererat hubungan antara kedua negara, terutama di bidang pendidikan kebudayaan, dan dakwah keagamaan. Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ini juga untuk mempererat hubungan antara masyarakat muslim Indonesia dengan Al-Azhar.

“Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia,” ujar Muchlis.

Menurut Muchlis, Syekh Ahmad Ath-Thayyeb dikenal sebagai ulama moderat dan selalu menyerukan ukhuwah (persatuan) dan tegas mengkritik Zionis. Di antara sikap dan pandangan keagamaannya adalah membela Khazanah pemikiran Turats (kitab kuning), Syekh Ahmad Ath-Thayyeb selalu menekankan misinya untuk melestarikan dan menyebarkan buku-buku turats (klasik). “Dalam banyak kesempatan, beliau sering mengungkapkan keprihatinanya atas apa yang terjadi di Al-Azhar dan universitas-universitas Islam lain, yaitu digantikannya buku-buku turats dengan buku diktat dari dosen,” kata Muchlis.

Kunjungan kali pertama Syekh Ahmad At-Thayyeb selaku Grand Syekh Al-Azhar ke Asia Tenggara. Di Indonesia untuk menyampaikan pesan-pesan dan seruan perdamaian dan kemanusiaan untuk dunia.

Syekh Ahmad Ath-Thayyeb juga dikenal mendukung Mazhab Asy’ari. Dikatakan Muchlis, sebagai pribadi dan orang Al-Azhar, Syekh Ahmad at-Thayyeb selalu menganjurkan Mazhab Asya’riyyah juga paling hati-hati dalam mengkafirkan orang lain. “Syekh Ahmad Ath-Thayyeb berpandangan maraknya fenomena pengafiran yang terjadi di kalangan tertentu umat Islam, selain karena penindasan penguasa, juga dihidupkannya kembali pemikiran-pemikiran khawarij yang sebenarnya sudah hilang ditelan sejarah,” lanjutnya.

Kedatangan Grand Syekh Al-Azhar untuk mempererat hubungan antara masyarakat muslim Indonesia dengan Al-Azhar. Menurut Muchlis, dalam konstitusi Mesir, Al-Azhar merupakan lembaga keislaman yang bersifat independen dan memiliki kewenangan melaksanakan seluruh kegiatan keislaman.

Al-Azhar merupakan rujukan dalam ilmu keagamaan dan urusan keislaman yang bertanggung jawab melaksanakan dakwah serta menyebarkan ilmu keagamaan dan bahasa Arab di Mesir dan dunia Internasional.

 

(Sumber: republika.co.id)

Exit mobile version