Yusuf Mansur

Shalat Zuhur Delapan Rakaat untuk Melesat

Shalat zuhur delapan rakaat untuk melesat. Tulisan sebelumnya: http://yusufmansur.com/cara-gampang-urusan-beres/

Shalat Zuhur Delapan Rakaat

Katakanlah, bahwasanya segala pertolongan itu hanya milik Allah. Segala kekuasaan yang di langit dan di bumi semuanya juga milik Allah. Dan apa saja urusan, semua kembalinya juga kepada Allah. Cuma memang kita ini suka mencari yang sulit. Solusi yang di depan mata, yang sudah dikasih sama Allah, yang kita sudah paham, kita enggak pakai! Segala ikhtiar dunia kita lakukan, tapi yang pokoknya kemudian kita lupakan!

Pada tahun 2003, saya merasa kesulitan sudah di puncaknya juga. Tahun itu saya merasa sudah enggak akan ada lagi peluang buat maju, dan buat beres segala urusan saya ketika itu juga. Tahun itu alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh Allah masih ketemu sama alm. Mu’allim KH. Syafi’i Hadzami. Berangkatlah kemudian saya kesana. Sampai sana kira-kira jam setengah dua. Kita bicara dengan beliau. Kita cium tangannya dengan khidmat dan bercerita tentang kesusahan yang sedang saya hadapi.

Shalat Zuhur Delapan Rakaat

Beliau berkata, “Tadi shalat Zuhurnya jam berapa?”

Saya yang datang setengah dua, memang baru shalat di sana.

Lalu saya menjawab, “Barusan!saya barusan saja shalat Zuhur!”

Mu’allim kemudian mengangguk dan dia menjawab, “Pantas, pertolongan Allah jauh bener! Jarak Allah dengan kami seberapa dekat sama awal waktu shalat? Terus kamu shalat Zuhurnya berapa rakaat?”

Saya saat itu tahu, ini kayaknya bukan pertanyaan. Semua juga paham kalau shalat Zuhur itu empat rakaat. Terus saya jawab, “Empat rakaat, Mu’allim…”

“Jadi, tadi empat rakaat shalatnya?”

“iya ….”

“pantes, shalat kamu enggak ada sayapnya!

Shalat Zuhur yang bener itu delapan rakaat. Dua rakaat qabliyah-nya juga dua rakaat ba’diyah-nya. Burung burung apa yang dia punya sayap, tapi dia enggak terbang, burung apa coba? Ada dua. Satu, dia tahu enggak dia punya sayap? Kalau dia tahu dia punya sayap, dia enggak pakai dia punya sayap lantaran itu dia enggak terbang, itu namanya burung malas, sudah tahu punya sayap, tapi dia enggak pakai. Yang kedua, dia tahu enggak punya sayap? Kalau dia enggak tahu dia punya sayap. Padahal tuh sayap nempel di dia punya badan lantaran itu juga dia enggak terbang, itu namanya burung bego. Kamu masuk yang males atau masuk yang bego?”

Oh … telak benar, tuh. Subhanallah!

Hari itu saya belajar tentang sebuah dosa, yaitu dosa tauhid. Tidak berdiri La ilahaillallah tanpa Muhammadur Rasulullah. Tidak berdiri yang wajib itu tanpa sayapnya yang sunnah.

***

Buku tentang sholat dan ibadah lainnya untuk menggapai sukses: Tawakal Lagi (https://bukuyusufmansur.com/catalog/book-detail/147)

Exit mobile version