Syekh Wahbah Zuhaili Telah Tiada

 

1syekh-wahbah-az-zuhaili

 

Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’un. Albaqaulillah. Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili meninggal dunia, Sabtu (8/8) sore waktu setempat. Kabar berita ini disampaikan oleh media Palestineps.com, yang berdomisili di Damaskus Suriah. Berita duka tersebut memicu kesedihan publik Damaskus, negara Timur Tengah serta negara-negara muslim lainnya.

Cendekiawan Muslim dan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mengatakan, umat Islam baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, merasakan kehilangan besar dengan wafatnya almarhum Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili.

Menurut Direktur Program Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor yang juga Ketua umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini,  Syekh Wahbah bin Musthafa Az-Zuhaili adalah ulama besar dan penulis produktif serta mujahid yang tidak pernah mengenal lelah dalam menyebarkan ajaran Islam.

”Ilmu Syekh Wahbah az-Zuhaili sangat komprehensif dan menyeluruh seperti tafsir, hadis, dakwah, fikih, sirah, dan lain-lain,” ujar Prof Didin Hafidhuddin kepada  Ahad (9/8) petang.

Lebih dari seribu santri putra Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Quran Ketapang, Tangerang, Banten, menggelar shalat ghaib di Masjid Al Madinah, di dalam kompleks pesantren, Ahad (9/8) pagi.

Menurut Ustaz Slamet Ibnu Syam, pengasuh Pesantren Daarul Quran putra, begitu tersiar kabar, ulama terkemuka Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dikabarkan meninggal dunia, pimpinan Pesantren Daarul Quran, Ustaz Yusuf Mansur menginstruksikan para ustaz untuk mengajak santri Daarul Quran menggelar shalat ghaib.

Pimpinan Pesantren Tahfidz Daarul Quran Ketapang, Ustaz Yusuf Mansur yang langsung menjadii imam shalat ghaib bagi almarhum Syeikh Wahbah Az-Zuhaili.

”Saya mengenal almarhum Syekh wahbah Az-Zuhaili adalah seorang ulama yang sangat sederhana dan sangat disiplin terhadap shalat, waktu dan janji,” ungkap Ustaz Slamet , pengasuh Pesantren Daarul Quran putra, Ahad (9/8) petang.

Salah satu kesuksesan ulama yang melahirkan karya monumental al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, sebuah kitab fikih perbandingan yang terdiri atas 11 jilid itu, sambung Ustaz Slamet, karena almarhum pintar memanfaatkan waktu.

”Sewaktu mudanya, untuk belajar dan menulis, almarhum biasa menghabiskan waktu selama 16 jam dalam sehari. Bahkan masa mudanya, almarhum tidak pernah tidur siang. Almarhum juga rajin berolahraga,” ungkap Ustaz Slamet menerangkan.

Doktor Tafsir dari Universitas Al Azhari Kairo, Mesir, Muchlis Hanafi, mengatakan Syekh Wahbah Zuhaili seorang ulama yang patut dicontoh. Kecintaannya terhadap ilmu ditunjukkan dengan produktivitasnya dalam menulis dan pengabdiannya dalam mengajar.

”Hanya sedikit ulama sekarang yang produktif menghasilkan karya ilmiah, seperti dilakukan Wahbah Zuhaili,” ungkap Muchlis,Ahad (9/8).

Menurut Dewan Pakar Pusat Studi Alquran (PSQ) ini, produktifitas almarhum dalam menghasilkan karya ilmiah, bisa disejajarkan dengan ulama masa lalu seperti Imam Nawawi, Imam Suyuthi atau lainnya.

Muchlis menambahkan, Wafatnya Syekh Wahbah Zuhaili merupakan musibah besar bagi umat Islam, karena kepergian ulama menjadi pertanda hilangnya ilmu, yang selanjutnya kendali berada di tangan orang-orang yang tidak berilmu tetapi mengaku pintar dan alim.

 

Al-Faatihah…

 

Sumber news: www.republika.co.id

Sumber Image: www.republika.co.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: