Tuanku Imam Bonjol

 

1. Tuanku-Imam-Bonjol

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Bonjol? Ya, dia pahlawan nasional yang berasal dari Sumatera Barat. Dalam sejarah yang dipelajari sewaktu di sekolah, Imam Bonjol dikenal sebagai pemimpin dalam perang Padri.

Tapi dimanakah Imam Bonjol lahir, siapakah orang tuanya, bagaimana perjuangannya?

Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pada tahun 1772. Melihat tempat dimana Imam Bonjol dilahirkan, Bonjol sebenarnya bukan nama orang, tapi nama tempat. Sedangkan Imam Bonjol berarti imam atau pemimpin daerah Bonjol.

Disebut Imam, karena dia memang seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda. Nama aslinya adalah Muhammad Shahab; dalam catatan lain nama aslinya adalah Muhammad Sahib. Dia merupakan putra dari pasangan Bayanuddin (ayah); dalam referensi lain ayahnya bernama Buya Nurdin. Ada juga yang mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Khatib Rajamuddin. Ayahnya dikenal sebagai alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota. Dan ibunya bernama Hamatun, seorang wanita yang berasal dari Maroko.

Muhammad Shahab mempunyai nama panggilan lainnya yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Sedangkan nama Tuanku Imam Bonjol, diperoleh Shahab dari Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam yang merupakan salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan. Tuanku nan Renceh menunjuk Shahab sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Sejak itulah nama Tuanku Imam Bonjol melekat pada diri Muhammad Shahab.

Tuanku Imam Bonjol belajar agama Islam dari ayahnya dan juga dari ulama-ulama lainnya, seperti Tuanku Nan Renceh.

Pada tahun 1779, ayahnya Imam Bonjol wafat dan pada saat itu Imam Bonjol baru berusia 7 tahun. Selanjutnya Tuanku Imam Bonjol belajar dari neneknya yang bernama Tuanku Bandaharo. Nama Muhammad Syahab pun diganti menjadi Peto Syarif.

Peto Syarif memang dikenal dengan kecerdasan dan kecakapannya. Jadi tidaklah heran, bila dia dapat dengan cepat menyelesaikan pendidikannya bersama Tuanku Bandaharo. Tapi Peto tidak puas sampai disitu saja, dia pergi berkeliling untuk mencari ilmu tentang islam.

Di tahun 1800, Peto Syarif berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan sangat memuaskan, serta memperoleh gelar Malin Basa yang berarti Mualim Besar. Malin Basa istilah untuk seseorang yang sangat mendalam pengetahuannya tentang Islam.

Walau pengetahuan Islamnya telah mendalam, tetap saja Malin Basa belum merasa puas dengan ilmunya. Oleh karena itu, dia memutuskan pergi menuju Aceh. Perjalanan menuju Aceh tidak mudah, memiliki banyak halangan serta amat meletihkan. Semuanya dijalani dengan penuh keikhlasan. Untuk memperoleh hasil yang besar, berarti harus pula dengan pengorbanan yang besar, seperti itulah prinsp beliau.

Di tahun 1802, Malin Basa alias Tuanku Imam Bonjol menikah dengan seorang gadis di Aceh. Di sinilah, beliau menetap dan memberikan pengajaran mengenai islam pada orang-orang. Cita-citanya ingin menerapkan Islam secara murni dan mencerdaskan rakyat.

ondisi masyarakat Minangkabau berubah sejak banyak masyarakatnya pulang dari menunaikan ibadah haji. Kepulangan para haji ini ternyata berpengaruh pada sikap terhadap masyarakat Minangkabau yang teguh memegang adat. Adat yang masih dipegang masyarakat adalah minum-minuman keras, menyabung ayam dan berjudi.

Dari sinilah para haji yang kemudian disebut Kaum Padri ingin membersihkan masyarakat dari berbagai adat yang menyimpang dari Islam. Upaya Kaum Padri ini mendapat pertentangan dari Kaum Adat. Kaum Adat yang masih memegang teguh adat ini tidak terima hingga terjadi pertentangan yang sengit dan berujung pada peperangan yang selanjutnya disebut Perang Padri.

Pertentangan kedua kaum ini semakin sengit terjadi di Bonjol dan Kaum Adat semakin terdesak Kaum Padri. Di saat seperti inilah, masuklah pihak ketiga yang mengail di air keruh. Yang dimaksud dengan pihak ketiga di sini adalah Inggris dan Belanda.

Pasukan Kaum Padri ini dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol ini tidak terima dengan campur tangan pihak ketiga. Mereka merasa terjajah. Sehingga perang pun semakin sengit. Kaum Padri tidak saja menghadapi Kaum Adat, tapi juga menghadapi penjajah Belanda yang menguasai Minangkabau.

Kebencian Kaum Padri tidak tanggung terhadap Belanda. Pada tahun 1821, pos Belanda diserbu Kaum Padri. Perlawanan yang ditunjukkan Kaum Padri ini dilakukan dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan  di daerah Boneo, Agam, Bonjol dan beberapa tempat lainnya. Oh ya perlu diketahui, Tuanku Imam Bonjol pernah belajar ilmu perang pada tahun 1803 dari Tuanku Nan Tuo. Selanjutnya mendapatkan ilmu militer dari Haji Piobang pada tahun 1805.

Perlawanan Kaum Padri terhadap pasukan Belanda ini terus berlangsung hingga sampai tahun 1825. Bersamaan dengan itu, Belanda sedang menghadapi Pangeran Diponegoro di pulau Jawa.

Akibatnya pasukan Belanda di Minangkabau ditarik ke pulau Jawa untuk menghadapi Pangeran Diponegoro dan pasukannya. Belanda pun merubah taktiknya, yaitu merubahnya ke taktik perdamaian dengan Kaum Padri, yang dikenal dengan maklumat Perjanjian Masang. Akan tetapi perdamaian ini tidak bertahan lama. Karena pihak Belanda sering menekan rakyat Minangkabau dan Belanda juga menyerang nagari Pandai Sikek.

Pertempuran kedua pihak pun kembali berlangsung sengit. Banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak. Akan tetapi kondisi ini menyadarkan Kaum Adat. Pada tahun 1833, Kaum Adat dan Kaum Padri bahu membahu melawan Belanda. Pihak-pihak yang semula berseteru bersatu melawan Belanda. Muncul kesadaran bahwa mengundang Belanda dalam konflik (antara Kaum Adat melawan Kaum Padri) malah menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri.

Pada bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Beliau bersedia untuk berunding, namun ternyata beliau ditipu. Tiba di tempat perundingan, beliau dipenjarakan di Bukittinggi, selanjutnya dipindahkan ke penjara di Padang. Lalu diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Pada akhir tahun 1838, beliau dipindahkan ke Ambon. Pada 19 Januari 1839 diasingkan ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat tersebut.

 

Sumber: http://www.biografipedia.com/2015/07/biografi-tuanku-imam-bonjol.html

http://www.panglimaulung.com/2011/05/biografi-imam-bonjol.html

Tuanku Imam Bonjol Bukan Wahabi

http://id.wikipedia.org/wiki/Tuanku_Imam_Bonjol

Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Dari Minangkabau

http://sukasukasaya7.blogspot.co.id/2014/04/biografi-tuanku-imam-bonjol.html

sumber image: http://www.kiblat.net/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 chars

Kode * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

facebook like