Yusuf Mansur

Ubah Mindset

 

 

Dari semasa kecil, saya yang tinggal di Kampung Sawah, Jembatan Lima dah akrab dengan banjir. Daerah kami bebas banjir. Banjir kapan aja mo dateng, bebas.

Tinggal gimana nyiasatin, ngadepin, njalanin kesusahan. Soal mindset, kesiapan hati, keriangan, dan doa. Sambil perbaiki buat ke depannya.

Bisa ga mendeskripsikan kesusahan dengan kesenangan dan keriangan? Contoh… Hujan itu adalah saat nikmat makan gorengan di kolong jembatan.

Bila keadaan susah, tapi terdeskripsikan dengan hal-hal yang menyenangkan, maka it’s be ajaiber… Play your mind… Think gud. Think positif.

Hilang motor itu… saatnya ganti yang baru…!!!Yeaaaa…

Saya jadi inget masa-masa kecil. Ketika masih kecil, semua positif aja. Riang aja. Termasuk saat banjir datang. Riang. Jalanan jadi punya anak-anak. No car. No motor.

Pada saat kita kecil, no limit. Dunia begitu luas. Jadi mungkin buat semua anak kecil. Saat ditanya, apa mimpi kamu? Jadi dokteeeeellll… sah.

Padahal cadel. Tapi cadel ga dipikir jadi halangan. Pokoknya ya ngucap ajaa: Jadi doktelll… Kurus. Letoy. Tapi pas ditanya? Aku mau jadi tentala.

Ketika engkau diberi kesusahan, lalu engkau melihat Kebesaran Allah, Tuhanmu, maka besarlah hatimu, dan terlihat senyummu.

Saat kawan-kawan dapet duit, tapi mindsetnya payah, maka yang keluar tuh bisa begini: “Wah… mestinya bisa dapet lebih besar nih…” Dan kesenangan pun, meaningless.

 

Exit mobile version