Yusuf Mansur

Ulama

Ulama-ulama itu penjaga negeri. Pembebas negeri malahan. Bahu membahu bersama tentara dan rakyat di era perjuangan kemerdekaan. Kekurangan ulama adalah ladang amal untuk kita mendoakan. Tidak ada yang sempurna, sepakat, karena itu, kita doakan. Semoga saya juga berhak atas doa-doa dari kawan-kawan.

Sekedar memberitahu, tidak sedikit ulama yang berasal dari kalangan raja, kalangan bangsawan, kalangan pengusaha, kalangan profesional, dan dari kalangan bermacam-macam. Melengkapi ulama yang lahir dari kalangan biasa aja. Seperti Nabi. Ada Nabi yang miskin, ada Nabi yang kaya. Semua model ya ada. Ada juga ulama suu’. Ulama yg buruk. Ada yang datang dari kalangan preman, kalangan selebritis, kalangan pendosa…. Lengkap. Kita ga boleh ngomel-ngomel. Syukur aja. Masih ada saudara kita yang lalu datang ke dunia ini. Doakan aja dapat kesempurnaan dari Allah. Saya mah milih positif aja. Ademan di hati.

Ada juga di kehidupan nyata, yang jatuh bangun saat meniti jalur ulama. Salah, terus bener. Trus salah lagi. Trus bener lagi. Trus salah lagi. Trus bener lagi. Ini perjalanan. Kalangan Nabi juga ada yang begitu. Kayak Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Semua ada hikmah-Nya. Perjalanan namanya juga. Kayak kita sebagai jamaah juga bener terus? Kan engga. Saling menguatkan. Bukan melemahkan. Saling melengkapi, bukan menghancurkan. Saling menyempurnakan, bukan saling menghabisi. Saling mencintai. Bukan membenci. Saling mengingatkan. Bukan saling menjtuhkan.

Kita semua dikasih akal dan perasaan. Tapi kita juga dikasih lisan danhati yang bisa dipakai untuk memilah dan berdoa. Selayak-layaknya yang didoakan setelah orang tua, adalah guru. Dan ulama itu, guru. Tapi di atas semua itu, guru juga ya manusia. Ulama ya manusia. Ingatkan aja. Dijaga aja adab saat mengingatkan.
Dan soal adab, kan bukan hanya saat mengingatkan ulama. Tapi juga saat mengingatkan siapa aja. Dan istiqomahkan mendoakan kelurusan, kebagusan, kebaikan, semua stakeholders agama dan bangsa. Bismillaah.

Exit mobile version